NATAL DENG PAPEDA SABALE

Katanya cinta meramas kasbi
Pancangkan kain di kuda-kuda
Tabaos cinta panggil anak negeri
Lihat mama meramas kasbi
Dengar suara rindu gadis sebelah rumah
Teriakan lapar tangisan dahagA
Dan suara himpitan kerongkongan kering
Bunyi perut berirama tifa pica


Katanya cinta membakar sukma
Lalu mama naikkan syukur siang
Singgahsana Allah memutih bagaikan toya
Panci tumpah ruah gelombang air panas
Sempe diramaikan jari yang me-lomi toya
Aru-aru menentramkan perut tertabu
Sukacita hadir siang malam dirumah tua

“Tuhan berkatilah makanan kami”
doa ini terdengar indah
karena papeda sabale akan datang
Tuhan…… nikmatnya kuah lemon.
Yang teruras bagaikan anggur hermon
Dijilati lidah penikmat bungaran
Pernahkah kau cicipi Tuhan…..?????

“Tuhan inilah makanan kami yang Kau beri
makanan natal orang pinggiran
yang hanya bisa mengolah kasbi
makanan natal anak negeri
yang susah beras secupak
dan cuma ada ikan meti

“ Tuhan………. Trima kasih atas berkatMu”
doa itu begitu syahdu
karena hati hampir menangis
adakah ganti dinatal mendatang..?
akankah meja makan diramaikan tabuhan sendok..?
ataukah jari tetap memercik kuah..?
dari mana sejahtera..?
dari mana kekenyangan..?
DARI PAPEDA SABALE
UNTUK NATAL INI

Karya : Elifas Maspaitella
Gubahan : Gusmon Sahureka


Tomanusa

Berikut ini adalah palamana Upu pattilounussa di tiap acara Tomanusa yang dilangsungkan di baileo.

Au Patti Lounusa Haturessy Rakanyawa
Au wala’a terima kasih karena Im panoe iteka
Man kura in nanahu talane

Au patti Lounusa mamese uet huhui Haturessy
Au koe wael tine, ama haturessy alat in mahai selaku
Awano laha anusano he’e upu lanite kabasa
Ya, epuna awan laha anusano wa’a iteka

Ana marua : ………….. (nama perempuan Hulaliu)
Kura In malona : ……… (nama suaminya, bukan berasal dari Hulaliu)

Kura si ana, a yang isi wa’a eke uria si Nusa si amino…
Sebelum lamatai e kakuru poku-poku..
Nau kita lalan salamat ea… wa’a im rumah tangga

Upu lanito ……. Iya papau ite looka….
Au haliut lae he to eya
-Berdoa
-Serahkan air
Sekian terima kasih..
\

Kronologis Perang Alaka II

Pada tanggal 5 Maret 1637 pecah perang Hatuhaha ke 2 yaitu perang antara kerajaan Hatuhaha dengan bangsa Belanda. Dalam perang ini terjadi 4 kali gelombang penyerangan Belanda ke Hatuhaha yaitu :
1. Penyerangan Gelombang I, pihak Belanda dipimpin oleh Caan dan Deutekon mendarat di Kabau dengan 8 Kora-kora. Pertempuran terjadi hanya disekitar pantai kabau dan berhasil menduduki daerah territorial kabau
2. Penyerangan gelombang II, ke Kailolo dengan mengerahkan 1016 prajurit terbagi daam 3 kelompok yang dipimpin oleh Major Piere Du Cams. Mereka menyusuri gunung-gunung terjal serta batu-batu karang yang terjal serta berhasil menduduki markas I, II, III di kailolo, dalam pertempuran ini banyak rakyat Kailolo yang menjadi korban serta pembakaran terhadap rumah-rumah rakyat dan meruntuhkan tembok-tembok batu. Sesudah menaklukan kailolo pasukan Belanda kembali mengadakan konsolidasi dan beristirahat semalam di kabau.
3. Penyerangan gelombang III oleh Belanda sudah menuju ke pusat kerajaan Hatuhaha. Pada waktu tu kerajaan Hatuhaha di pimpin Oleh seorang kapitan wanita bernama Monita Latulinya yang mempunyai strategi perang bertahan di lereng-lereng bukit. Mereka menggullingkan batu, kayu batangan dan melempari dengan abu dalam tempurung sehingga pihak Belanda jatuh korban sebanyak 5 orang dan 2 diantaranya tidak dikenal lagi karena hantaman batu dan kayu.
4. Penyerangan gelombang IV oleh Belanda dengan mendatangkan pasukan panah Alifuru sebanyaj 286 orang yang dipimpin oleh Kapitan Sahulau, Sumeit dan Sisiulu. Sedangkan kerajaan Hatuhaha mendapat bantuan dari malisi-malisi yang dipimpin oleh Kapitan Rambatu (seram), kapitan Ririasa (Oma) dan Kapitan Tihulale. Kapitan Tihulale mendatangkan 3 pucuk meriam ke Alaka. Nama ketiga pucuk meriam tersebut adalah Talangkares, Hiriosa dan dangerales, pelurunya dibuat dari buah kelapa yang diisi dengan campuran abu dan bubuk cili / cabe. Kerajaan Ama Hatuhaha mendapat bantuan juga dari Tuhaha sebagai tanda solidaritas pela. Pada tahun 1638 Latu Uli Siwa kapitan Aipassa mengirimkan bantuan malisi-malisi yang diambil dari 7 (tujuh) soa yang ada di Tuhaha dan dipimpin oleh Kapitan Sasabone, Pattipeiluhu dan Polatu, kemudian di susul oleh Latu Uli Siwa kapitan Aipassa, semuanya menuju ke Alaka. Awal pertempuran terjadi setelah Pattikasim bertemu dengan Belanda di Pantai Besi, saat hendak menangkap ikan. Mereka memaksa dia untuk menunjukan jalan menuju Alaka, tetapi dia tidak memberitahu. Kemudian belanda memberi sekarung beras padanya, tetapi karung tersebut telah dilubangi tanpa sepengetahuaannya. Melalui tumpahan beras itulah maka Belanda mengetahui jalan menuju ke pusat kerajaan Alaka. Setelah itu pihak belanda menggunakan jalan ini untuk menyerang kerajaan Alaka, maka terjadilah pertempuran sengit yang banyak memakan korban jiwa dari kedua belah pihak. Kerajaan Alaka dibumihanguskan dan harta berupa porselin dan gong serta 16 kepala manusia dibawa oleh pasukan Alifuru. Pasukan Sisiulu semuanya terbunuh dalam pertempuran tersebut. Dari kerajaan Hatuhaha yang tewas adalah kapitan Rambatu dan beberapa orang yang terlibat dalam peperangan tersebut.

Dari peristiwa tersebut mereka digelar sebagai pahlawan-pahlawan Alaka seperti yang ditulis oleh Dieter Bartels. Peristiwa ini yang menyebabkan semakin kentalnya hubungan Pela antara Tuhaha dan Hatuhaha Amarima, tetapi pada kenyataannya hanya Rohomoni sendiri yang masih menjalaninya.
\

Budayakan Bahasa Daerah

Rutinitas pagi ini sama seperti pagi yg lain dan salah satu bagian dr rutinitas pagi adalah baca email.

Ada satu email yg berkesan buat saya yaitu email dr komunitas pemuda kampung saya IPPHAR (Ikatan Pemuda Pelajar Haturesy Rakanyawa) yang berisi tentang sebuah himbauan positif yang intinya berupa "ajakan" agar kita terus membudayakan bahasa daerah HULALIU (nama kampung saya) mulai dari sapaan yg paling gampang seperti "aha one??" atau apa kabar.

Saya sangat tertantang, tapi hal ini menjadi sulit buat saya karna yg saya tahu dari bahasa Hulaliu cuma aha one?.

Saya bangga dan senang membaca himbauan tersebut, dimasa dimana semua orang mulai berlomba-lomba mempelajari dan menguasai bahasa asing segilintir anak muda masih peduli dengan bahasa daerah dan berusaha untuk melestarikannya dan menularkannya kepada pemuda-pemuda lain.

Hulaliu adalah bagian tak terlepas dari ayah-ibu saya demikian jg saya.
Catatan Belisiama Gracia 'gNo'

Hatuhaha Altua Grade

Dari catatan sejarah terdapat dua kali bantuan malesi hena Muka dan belakang untuk kerajaan Hatuhaha Amarima yang berpusat di Suatu Tempat yang namanya “Alaka” di pulau Haruka. Alaka terdiri dari lima wijk yang terpisah-pisah taitu Rohomoni yang terletak pada Kitakutu Samanimi, Kabau pada Amahutu Hutu, Kailolo Pada Hatuane, Pelau pada Henalatu Matasiri dan Hulaliu pada Hatualese.
Bantuan ini terjadi pada tahun 1571 saat Portugis menyerang Alaka. Malesi-malesi pilihan diambil dari 9 soa yang dipimpin oleh kapitan Aipassa, pattilapa dan soumaha yang dalam pertempuran sengit disekitar daerah territorial kabau, kailola, Rohomoni dan jalan-jalan menuju ke Alaka.
Setelah peperangan selesai diadakan konsolidasi oleh kapitan-kapitan Tuhaha, hasil tersebut menyatakan bahwa malesi-malesi yang mewakili Soa Soapake dan Amahutai dinyatakan tewas seluruhnya dalam pertempuran tersebut. Sampai saat hanya terdapat marga-marga yang gugur dalam pertempuran di maksud antara lain Sipalasi, Tulhandatul, Nustan, Matahelumual, Mataheloya, Makitabessy, Pakalesja, Latuhenawakan, Tomulya, Tehupatawa, Halatua, Nanuasa, Tehuwanan, Peilekenon, kesaulya dan Onasaa, bersama 14 marga lain yang sampai saat ini belum terungkap. Semua malesi-malesi dari Tuhaha dikuburkan pada suatu tempat khusus yang namanya Ama hatuhaha Tuhaha di Alaka. Dengan terjadinya peristiwa itu maka Hatuhaha Amarima mengangkat sumpah dengan Tuhaha sebagai “Orang Basudara” yang kemudian diabadikan sebagai Pela Darah atau Batu Karang.
Sejarah Bantuan perang Tuhaha kepada Hatuhaha Amarima di perkuat oleh Dieter Bartels dalam disertasi Doktornya pada Cornel University-USA, yang menyatakan bahwa antara Tuhaha dan Hatuhaha telah memiliki hubungan terdahulu yaitu Hubungan Akrab dan darah. Kemudian dari catatan Portugis yang dikutip oleh Dieter Bartels menyebutkan bahwa Hatuhaha Altua Grade, artinya Hatuhaha Besar sedangkan Tuhaha disebut Hatuhaha Altua Pigieno yang artinya Hatuhaha Kecil \

Kaos Hulaliu Inside

Kaos Sablon Hasil Karya Pemuda Pelajar Haturessy Rakanyawa.
Desain oleh EdwinTaihuttu,
Dicetak di Studio Aha’one IPPHAR-Ambon
Oleh Gusmon Sahureka, Malf Laisina, Maryo Tuanakotta
..Hulaliu Inside..
desain sederhana namun elegan dan modern... miliki segera hanya Rp 50.000,-.. Kaos C59 berkualitas....!!!
tersedia Ukuran XL, L. M dan S..
Pesan segera disini
kapanpun untuk wilayah Ambon akan kami antar.

Kaos Hulaliu Inside

Philip Titaley, Lucky Birahy, Maryo Tuanakota.. Tampil Percaya diri dengan kaos Hulaliu Inside

Mengenal Bpk Nelis Noya



Cornelis Noya, lahir 27 Juli 1934 di Hulaliu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah dari pasangan Petrus Noya dan Antomina Taihuttu,
Pada usia 7 tahun Beliau mengikuti pendidikan bahasa Jepang di Hutan Ruatalai suatu dusun di petuanan Hulaliu karena pada saat itu kondisi belum aman, gurunya adalah Bastian Birahy dan Salah satu guru berkebangsaan Jepang yakni Ike Maru. Tahun 1943 beliau masuk SR di Hulaliu, saat di SR ia harus merubah tahun lahir menjadi 27 Juli 1947 agar umur lebih muda dan dapat mengikuti ujian SR, karena kalau tidak demikian maka akan dikeluargkanb dari sekolah. Beliau melanjutkan studi ke SMP negeri pelau, hingga kelas 3 SMP ia memutuskan untuk keluar dari sekolah untuk merantau di Ambon…
Cornelis Noya saat pindah ke Ambon, tinggal dengan Bpk Demi Noya, yang adalah komandan Militer Kota / KMK (Sekarang KODIM), bersama Demi Noya selalu membawa beliau hingga aktif dalam proses kampanye Bpk Muhamad Padang Calon Gubernur Maluku saat itu. Karena aktif di daerah asrama militer maka ia juga bersama-sama dengan Silas Papare yang berjuang untuk Irian Barat masuk ke NKRI dan melakukan beberapa kali perjalanan yakni ke Wahai hingga Misol.
Setelah Tahun 1965 beliau kembali ke Hulaliu dan tergabung dalam OPR (organisasi Pertahanan Rakyat) OPR diberikan senjata 6 pucuk untuk 12 orang anggotanya dengan tujuan membasmi sisa-sia RMS di Pulau Haruku dan untuk menyelamatkan negeri hulaliu dari siksaan Polisi dan Brimob. Anggota OPR diantaranya adalah : Johanies Sedubun, Jakob Sedubun, Adrianus Laisina, Pattihua Hatalaibessy, Ferdinand Noya, Abraham Taihuttu, dll. OPR berhasil menangkap beberapa orang RMS dan diserahkan ke Brimob yang saat itu komandannya adalah Chr Tahapary.
Setelah keamanan terwujud OPR di bubarkan, menikahi Naomi Birahy dan tahun 1969 di calonkan menjadi KADES, namun tidak lolos dan menjadi Wakil untuk kades Frets Matulessy, kemudian periode berikut juga menjadi wakil untuk kades Nataniel Taihuttu, Wakil mendampingi Kades Buce Taihuttu, Wakil mendampingi kades Dominggus Noya, Wakil mendampingi Raja Robby Laisina (Almarhum) saat inilah perda tentang pemerintahan adat. Karena beliau mendampingi 5 kepala desa sejak tahun 1969-2003, maka warga Hulaliu menyebutnya BAPAK NELES WAKIL. Tidak hanya itu Selama menjabat wakil kepala desa beliau juga menjabat sebagai kepala Soa Noya sejak tahun 1979-2003, yang kemudian diganti oleh Wellem Noija hingga sekarang.
Cornelis Noya memiliki 1 isteri Naomi Birahy, dan 7 orang anak : Petrus Noya, Hanna Noya, Theopilus Noya, Lebrina, Jakobis Noya, Martinus Noya, dan telah memiliki 13 cucu.
Hingga kini Cornelis Noya tetap berdiam di Hulaliu sebagai tokoh adat sehingga banyak memberikan kontribusi terhadap sejarah dan adat Hulaliu kepada Masyarakat negeri Hulaliu, dan juga kepada peneliti sejarah.

Ekslusif Oleh Mon Sahureka
Hulaliu, 21 September 2009

SEJARAH PERANG ALAKA

Penyusun : Bpk Max Aipassa, Bpk Hermanus Louhenapessy, Bpk Frans Pattipeiluhu, Bpk Josias Sahusilawane, Bpk Sammy Siahaya

Di salin sesuai buku Aslinya dan diposting Oleh :Gusmon Sahureka

Pada waktu dulu kala, zaman datuk-datuk sebelum bangsa barat menguasai kepulauan nusantara khusunya daerah Maluku, maka negeri-negeri kepulauan lease sebagian besar bukan berada di pesisir pantai seperti sekarang ini, tetapi letaknya di pegunungan yang penuh denganbatu-batu karang yang besar dan dikelilingi oleh goa-goa yang dalam. Begitu juga di pulau Haruku tanah Alaka, benteng kerajaan Hatuhaha, letaknya dipegunungan kurang lebih 5 km dari tepi pantai. Kerajaan Hatuhaha terdiri dari 5 (lima) soa atau negeri bagian yaitu : Hulaliu, Pelau, Kailolo, Kabau, Rohomoni. Di sini tempat Upu Patti Hatuhaha bersama kapitan-kapitano, malesi-malesio serta seluruh bala rakyat hidup dengan aman dan sentosa
Pada tahun 1571 datanglah bangsa barat yaitu Portugis ke bagian Timur Indonesia, dan menduduki pulau-pulau di Maluku. Begitu juga tanah Alaka Benteng Hatuhaha ingin sekali diduduki oleh mereka. Selama beberapa hari, angkatan laut musuh mondar-mandir di selat Haruku dan mendaratlah angkatan perangnya disitu. Sementara itu ada seorang anak buah dari Patti Hatuhaha yang bernama Patti Kasim turun kelaut untuk mencari ikan, dan ia tidak tahu ada musuh disitu yang sedang emndari jalan ke Alaka. Patti Kasim yang ditanggap dibawah kehadapan panglima musuh; Patti Kasim diberikan 1 karung beras untuk dibawah pulang. Disini muncul tipu muslihat musuh. Sebelum beras itu diberikan, meraka melubangi karungnya sehingga dalam perjalanan ke Alaka, jatuhnya butir-butir beras ke tanah sehingga menjadi penunjuk jalan bagi musuh.
Setibanya Patti Kasim di Alaka, ia menceritakan kejadian tadi kepada Patti Hatuhaha. Secara serentak Patti Hatuhaha mengumpulkan bala rakyatnya dan menceritakan apa yang terjadi. Patti hatuhaha segera memerintahkan semua kapitan dan malesinya untuk bersiap-siap menghadapi setiap penyerangan, demi mempertahankan tanah air, tanah tumpah darah mereka. Kini pasukan musuh menuju ke Alaka menurut butir-butir beras tadi dan meraka bertemu dengan pasukan Patti Hatuhaha disini terjadi penyerbuan musuh terhadap benteng Hatuhaha, dan disambut dengan gigih oleh pasukan hatuhaha, yang tak mau mengenal mundur. Walaupun waktu itu masih kuno perlengkapan perang yakni parang dan salawaku, tetapi kapitan-kapitan Hatuhaha sangat pandai dalam mengatur strategi perang, oleh karena musuh dengan alat perang yang serba modern, maka mengakibatkan banyak anak buah dari Patti Hatuhaha menjadi korban. Kapitan pengharapan Hatuhaha pun ditangkap, kini menghadap panglima musuh. Sesudah dibujuk dengan kata-kata yang manis, pakaian serta makanan dan minuman yang enak-enak, maka ia setuju menjadi kaki tangan musuh, untuk melawan saudara-saudaranya sendiri. Kapitan ini kemudian kembali dan bertemu dengan teman-temannya yang ada dalam tahanan dan membujuk untuk menjadi anak buah musuh dan taat kepada pemerintahan musuh. Ada juga yang tetap menentang dan melarikan diri.
Musuh kini menduduki tanah Alaka, Patti Hatuhaha bersama anak buahnya mengundurkan diri dan mengadakan perlawanan secara gerilya. Sementara itu mereka berusaha meminta bantuan dari saudara-saudara dari pulau tetangga. Patti Hatuhaha kehilangan pengharapan karena anak buahnya makin hari makin berkurang. Dicari bantuan ke Ambon ( gunung Salahutu), di Nusa Ina (pulau ibu=seram), tetapi nasib tetap buruk.
Kira-kira sebelum peristiwa Alaka ini, terjadi perang saudara di Nusa laut yang namanya perang MOLAA. Salah seorang dari tanah Molaa yang melarikan diri dari peperangan tersebut, dan tibalah di pulau Haruku. Bertemulah ia dengan seorang anak buah dari Patti Hatuhaha yang sedang mendari ikan di laut. Setelah mereka berdua bertemu maka ia dibawa ke Patti Hatuhaha. Pertemuan antara saudara dari Molaa dengan Patti Hatuhaha, maka saudara ini menceritakan apa yang terjadi di negerinya. Katanya ada seorang kapitan yang gagah perkasa yang turut memberi bantuan dalam pertempuran itu. Namanya “Kapitan LISAL ESAA, kapitan matahari naik dari pulau Saparua tanah Huhule, tanah BEINUSA AMALATU, KAPITAN AIPASSA LATU HUHULE. Patti Hatuhaha menerima berita ini dengan lega hati dan serentak juga memerintahkan 2 anak buahnya menuju Huhule untuk meminta bantuan dari kapitan Aipassa.
Kedua utusan meninggalkan tanah Alaka Pulau Haruku menyeberang dari Hulaliu ke tanjung Uniputty Kulur, menuju pelabuhan Tuhaha, masuk di sungai Wai Ila dan mendaratlah pada sebuah tempat yang bernama Mata Air Seram. Keduanya terus berjalan menuju tanah Huhule, yang disitulah berdiam UPU LATU HUHULE, kapitan Aipassa yang didampingi oleh pangima-panglima yang gagah perkasa : KAPITAN POLLATU, KAPITAN PATTIPEILUHU dan KAPITAN SAHUSILAWANE. Tanah Huhule letaknya kurang lebih 6 km dari pesisir pantai. Huhule yang besar dan berkuasa dimana kapitan Aipassa bersemayam dengan segala kebesarannya dengan soa-soa atau bagian antara lain : AMAPATAL, TALEHU, AMAPUANO, MATALETE, APALILI, TAHAPAU, AMAHUTAI dan SOPAKE.
Di depan pintu negeri Huhule kedua utusan dari Hatuhaha itu ditahan oleh kapitan Sahusilawane pengawal negeri. Setelah sahuselawane mendengat maksud kedatangan kedua utusan tersebut, maka keduanya dibawa menghadap Latu Huhule. Setelah para utusan menyampaikan maksud mereka kepada Latu Huhule, maka segera juga Latu Huhule mengadakan rapat patasiwa di gunung saniri dan ditempat ini dipakai selalu oleh pada datuk-datuk sebagai tempat musyawarah sampai pada perang Pattimura. Kapitan Aipassa menyampaikan permintaan Patti Hatuhaha kepada semua kapitan dan malesinya seraya perintahkan Kapitan Pattipeiluhu atau Pattilapa untuk siapkan pasukan sebanyak tiga puluh kapitan dan malesinya untuk menuju Alaka membantu saudara-saudara mengusir penjajah dari bumi Lease.
Kapitan Pattipeiluhu sebelum berangkat tinggalkan Huhule, ia mengangkat sumpah yaitu sumpah tanah air bersama anak buahnya dihadapan Latu Huhule seraya berjanji : dalam tiga dari Upu Latu Huhule Raja Beinusa akan mendapat berita mengenai perjuangan mereka. Setelah kapitan Pattipeiluhu mengatakan janji maka Upu Latu Raja Raja Huhule memberi nasihat kepadanya dengan nasihatnya : INGATLAH KAMU TIDAK BOLEH BERMAIN-MAIN DENGAN WANITA. BAIKLAH KAMU MAJU DENGAN JIWA YANG SUCI, KIRANYA TUHAN ALLAH MENYERTAI KAMU’’.
Setelah semuanya selesai berangkatlah pasukan Pattilapa ke tanah Alaka. Mereka melintasi laut dan singgah di suatu tempat yaitu pada kaki air Wai ira, dari sini mereka menuju ke gunung Alaka. Setelah tiba di Alaka maka bertemulah pasukan Pattilapa dan Patti Hatuhaha. Kedua pasukan ini segera menuju medan pertempuran. Pertempuran terjadi dari kedua pasukan ini dengan pasukan musuh, tetapi karena Pattilapa telah tertarik pada seorang Nona dari Hatuhaha, maka oa telah melanggat janjinya kepada Huhele dan menjadi sial dalam peperangan ini. Penjajah berhasil mematahkan kekuatan Patti Hatuhaha dan Pattilapa. Pattipeiluhu tidak beruntung, ketiga puluh anak buahnya gugur dimedan bakti menjadi bunga bangsa yang menghiasi bumi Alaka hingga saat ini. Pattipeiluhu ditanggal oleh penjajah karena kekebalannya, ia di tembak tidak mati, dipotong tidak luka, serta ditikam tidak terasa, lalu akhirnya ia diikat dan dibuang kedalam kurungan besi. Di dalam kurungan besi, Pattipeiluhu tetap memegang parang dan salawaku karena kedua benda itu tdak bisa terlepas darinya, walaupun musuh telah berusaha mengambilnya.
Tiga hari telah berlalu, kapitan Aipassa mendapat berita atau tanda dari Pattipeiluhu, dengan jalan mawe beliau mendapat tanda bahwa Pattipeiluhu berada dalam keadaan bahaya. Dengan segera belian mengumpulkan semua kapitan Malesina untuk membicarakan keadaan Pattipeiluhu dan anak buahnya. Setelah berpikir ia mengambil kepurusan untuk pergi sendiri ke Alaka membantu anak-anaknya, dengan perjanjian beliau akan memberikan berita kepada Sowaku Polattu, setelah beliau menjalankan tugas.
Kapitan Aipassa anak keturunan Nunusaku memang seorang yang penuh dengan kuasa dan hikmat, dengan parang pengganti panggayo dan salawaku sebagai perahu, maka majulah kapitan Aipassa menuju Alaka, toma ombak dan gelombang, langgar arus dan angin topan, menyeberang laut yang bergelora maka tibalah di bumi Haruku. Kapitan Aipassa berjumpa dengans seorang rakyat Hatuhaha yang sedang mencari bia di tepi laut, setelah keduanya berbicara, maka kapitan Aipassa dibawa ke patti Hatuhaha. Disini terjadi pertemuan antara keduanya, dua orang yang tidak kenal menyerah dan tidak mau dijajah ini dalam malam gelap gulita mereka menuju benteng musuh, setelah sebelumnya semua yang merupakan kepintaran mereka disiapkan, maka yang pertama-tama menjadi mangsa mereka adalah pengawal yang mengawal benteng musuh. Setelah gugur, maka keduanya segera menuju ke kurungan besi, dan melepaskan Pattipeiluhhu. Kapitan Aipassa melaksanakan semua ini atas hikmat yang ada padanya. Setelah Pattipeiluhu bebas, maka ketiga tokoh rakyat ini segera menjalankan aksi mereka. Sementara itu keadaan dalam benteng penjajah menjadi heboh, sehingga segera juga terjadilah perang sengit. Hampir seluruh penghuni benteng menjadi korban, sendang sisanya melarikan diri sehingga rakyat Hatuhaha menjadi bebas kembali. Upa Latu Huhule menempati janjinya kepada Polatu serta semua bala rakyatnya di Huhule. Dengan satu lirang atap beliau terbang menyala-nyala ke negerinya.
Di negeri Huhule Kapitan Somala menyambut tanda kemenangan dari Latuny dengan gempita bersama semua bala rakyat. dari kemanangan inilah maka Beinussa dan Hatuhaha mengangkat Ikatan atau yang disebut Pela yaitu PELA TUMPAH DARAH atau PELA BATU KARANG.
Demikian sekelumit Kisah dari Perang Alaka / Perang Hatuhaha
Di Sampaikan pada acara KUMPUL BASUDARA, Beinusa Amalatu - Hatuhaha Amarima Lounusa, Kafe Ancol Bay, Jakarta 9 Oktober 2004

Kata Bijak

Salah satu cara yang digunakan Tuhan untuk memperkuat janji-janjiNya adalah dengan memberikan kekuatan kepada umat-Nya untuk mendapatkan kekayaan

Struktur Pemerintahan Negeri Hulaliu

Raja : Philip Tuanakotta
Sekretaris : Marthin Renny Sahureka
Kepala Urusan Pemerintahan : Christian Siahaya
Kepala Urusan Pembangunan : Zepnath Siahaya
Kepala Urusan Umum : Donny Noya
Kepala Soa Siahaya : Marthinus Siahaya
Kepala Soa Noya : Wellem Noya
Kepala Soa Taihuttu : Silvester Taihuttu



DEKLARASI ADAT 7 GANDONG

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, kami Raja-Raja 7 (Tujuh) negeri basudara gandong “SILATUPATIH dan 8 (delapan) Kepala Desa SIRATU YAMA WALLU atas nama masyarakat dengan ini menyatakan :
1. Kami Tujuh negeri “Assilulu, Paperu, Hulaliu, Tulehu, Sila, Tial, dan Laimu” adalah “Basudara Gandong”
2. Panas Gandong perlu dilestarikan sepanjang masa
3. Sepakat membentuk wadah basudara gandong dengan nama “SILATUPATIH dan SIRATU YAMA WALLU”
Semoga Tuhan Maha Kuasa Merahmati Kesepakatan Ini.
Assilulu, 15 April 2008



12 Marga Pada Tiang Baileo

12 Marga asli di Hulaliu dengan nama teon-nya,
Yang tertera pada 12 tiang baileo
Noya = Lesi
Sahureka = Sopayase
Matulessy = Lohsama
Maruanaya = Waka
Suribori = Sopamahu
Siahaya = Sourisa
Taihuttu = Pokawuru
Mataheru = Tomahura
Laisina = Tuturepi
Tuanakotta = Peikawa
Hatalaibessy = Tuturepi malete seine talete
Pasanea = Patimanusa


Kontak Pengurus IPPHAR

Mersy Sahureka : 085243143743
Jopie Laisina : 085243538921
Els Timisela : 081343305725
Ince Siahaya : 085243491712
Joni Taihuttu : 085243643892
Semi Siahaya : 081383013792
Yudy Noya : 081247035433
Gusmon Sahureka :085243121131
Mon Tuanakotta :085243300810

Marga / Family Name di Maluku

Marga atau Family Name di Maluku.. dan yang dengan huruf besar adalah arga asli di Hulaliu. Nama anak dari sebuah keluarga akan ditambahkan nama keluarga sang ayah di belakangnya. Dari nama-nama marga Ambon ini, dapat dilihat pengaruh Portugis dan Belanda khususnya, yang menunjukkan besarnya pengaruh penjajahan kedua bangsa itu di wilayah ini.
A
Abednego, Abel, Abaroea atau Abarua, Abraham, Abrahams, Abrahamsz, Acher, Ademiar, Adeo, Adjahary, Adolf, Adonis, Adrian, Adrianz, Adrians, Adriaansz, Adrianus, Adtjas, Afaratu, Afdan, Afflu, Afitu, Aghogo, Agudjir, Agustinus, Agustis, Agustyen, Ahab, Ahad, Ahar, Ahiyate, Ahlaro, Ahnary, Ahudora, Ahver, Aihery, Ailerbitu, Ailerkora, Ainoli, Aipassa, Airory, Aitonam, Akasian, Akbar, Akel, Akerina, Akiaar, Akiari, Akiary, Akihary, Akipu, Aklafin, Akohillo, Akollo, Akse, Aktalora, Akyuwen (baca:Akiwen), Alain, Alakaman, Alamon, Alaslan, Alatubir, Alberthus, Albram, Alexander, Alfanay, Alfaris, Alfons, Alicaris, Aliputty, AlkatiriAlkoteri, Allo, Aloon (baca:Alon), Alopy, Aloumoly, Alputila, Alvarisi, Alviaro, Alwen, Alwer, Alwy, Alyeru, Alyona, Amahoru, Amamaran, Aman, Amahorseya, Amanapunyo, Amaral, Amarduan, Ambar, Amergebi, Ameth, Amorhosea, Amos, Ambrosilla, Amunnopunjo, Amuntoda, Anakotta, Anakotapary, Anamova, Anas, Andea, Andies, Andres, Andrias, Andries, Angelbert, Angels, Angganois, Anggoda, Angkotta, Angkotamony (baca:Angkotamoni), Angkotasan, Angky, Angwarmase, Aninjola, Ansora, Anthonio, Anthony, Antormase, Apalem, Apalen, Apanath, Apang, Apitula, Apituley, Aponno, Apopits, Aprian, Aramuda, Araben, Arbol, Arends, Areros, Argueble, Aries, Aristarkus, Arjesam, Armando, Arnes, Arlooy (baca:Arloy), Aronds, Aropa, Aroran, Artafella, Arts, Arun, Asbay, Aschab, Asohorty, Asry, Assel, Astan, Asthenu, Aswaly, Asyeram, Atapary, Atbar, Atiby, Atihuta, Attamimi, Aucheyeny, Augustyn, Aunalal, Auratu, Aurima, Aurmartin, Awear, Awirano, Ayal, Ayawaila, Ayhery, Ayhuan, Ayuba,


B
Bachta, Bacory, Badelwair, Badmas, Baersady, Bager, Bahrid, Bairatnissa, Bairo, Bakarbessy, Bakker, Bakridi, Ballan, Bally, Balryan, Balsala, Balthazar, Balvid, Bamatrao, Bämfer, Baora, Baragain, Baransano, Barendz, Bareto, Barfeny, Barger, Barkeij, Barlola, Barloy, Barmella, Barons, Barry, Bartolomeus, Barutressy, Basafin, Basalamah, Basry, Basteirn, Bastian, Batceran, Batcori, Batdjedelik, Batfeny, Batfian, Batfin, Batfyor, Batho, Batidas, Batlajery, Batlyel, Batlyeware, Batserin, Batsira, Batsyory, Battisina, Batto, Batuwael, Batwael, Batyefwal, Bauwens, Bazari, Bazergan, Beay, Beffers, Belay, Belder, Belegur, Belen, Beljaky, Beljeur, Belmin, Belnard, Belseran, Belson, Belwain, Benlas, Benamen, Benedijk, Benjamin, Benson, Bento, Benyernakor, Berhitoe atau Berhitu, Bernadus, Bernhard, Bernard, Bernts, Bersaby, Bersalei, Beruat, Besan, Betaubun, Betoky, Bianchi, Biet, Bille, Binbaso, Binnendijk, Binsye, Birahy, Blijlevens, Blukora, Bochi, Boften, Boger, Boina, Boinsera, Boky, Bolisara, Bonara, Bonsalya, Boogart, Borges, Borlak, Bormassa, Borrel, Borolla, Borut, Bosko, Bothmir, Botter, Breekland, Bremeer, Bria, Bruhns, Bruigom, Buano, Buarlely, Builder, Buiswarin, Bukop, Buloglatna, Buloroy, Bunjanan, Burnama, Bwariat, Bwarnirum,


C
Callahan, Calvari, Camerling, Capobianco, Carelsz, Carliano, Carolus, Castera, Castillo, Cecene, Chakenota, Cheiongers, Chello, Chera, Chostantinus, Chrisaldo, Christabel, Christen, Christiaan, Christo, Christoffel, Cie, Cobis, Coendraad, Cohen, Collins, Cols, Comul, Conoras, Consina, Corputty, Corneille, Cornelis, Correia, Courbois, Cramer, Crola, Cuana,


D
da Costa, da Queljoe (atau de Quelju), Dahoklory, Damava, Dandel, Daniel, Daniels, Darany, Dario, Dasfordate, Dasletty, Dasmasela, Dasola, da Silva, da Sousa, Dates, David, Davidz, Dawan, Day, Dayera, Deay, de Barrito, de Bell, de Boer, de Bree, de Brund, de Eng, de Elie, de Feniks, de Flart, Defnada, de Fretes, de Gier, de Graaf, de Haas, de Haart, de Houtman, de Jong (atau de Yong), de Kates, de Keyzer, de Klerek, de Kleric, de Kooc, de Kock, de Kroes, de Leeuw, Delfiga, de Lima, Delly, de Lopez, de Lozari, Demny, den Brave, Denwaklera, Deo, de Powes, Deraukin, Deres, Derhaag, Deriksen, Derikson, Derlauw, Derlen, Derman, de Rooij, de Rozary, de Silo, de Sily, de Sirat, de Soysa, Devenubun, de Vette, Devo, de Vreede, de Wanna, Diasz (atau Dias), Diaas, Diaz, Dikroes, Dilear, Dileer, Diller, Dirk, Dirklalean, Dirksz, Disera, Dagang, Djafry, Djakaria, Djamdjik, Djelagay, Djelau, Djervui, Djermor, Djerol, Djetul, Djibrael, Djilarpoin, Djonler, do Andres, Dobred, Dohasair, Dolhalewan, Domingus, Domlay, Dobbert, Dobertd, Dolaitery, Dolita, Dolkapi, Dolwoy, Dominggos, Dompeipen, Dopiando, Doppert, Doren, Dorseis, dos Santos, Doter, Dousee, Drachman, Drees, Drimol, Drost, Duarmas, Dula, Dumgair, Duparlira, Dwicaprie,


E
Edberth, Edward, Effelewn, Efluar, Efraim, Efruan, Egberth, Eideul, Eirumkuy, Eiwury, El, Elake, Elaury, Eleujaan, Eleuwarin, Elier, Elmas, Elanor, Elath, Eliesen, Elkel, Elle, Ellias, Elfarin, Elminero, Elpis, Elsiba, Elsoin, Eluwart, Elte, Elwarin, Ely, Elyaan, Embisa, Emola, Empra, Emray, Engel, England, Engro, Enrico, Entamoin, Enos, Entero, Enus, Eoch, Erbabley, Eremerd, Erlely, Ernas, Eropley, Ersaprosy, Erwanno, Esomar, Esrev, Esserey, Essy, Etiory, Etrial, Ette, Etwiory, Eugara, Evaay, Evamutan, Evert, Ewaldo, Eyale, Ezauw,


F
Fader, Fadersair, Fador, Faifet, Falaici, Falauf, Falera, Falermury, Falikres, Fallen, Famas, Famney, Fanbrene, Fanlay, Fangohoy, Farjala, Farly, Farsin, Fasse, Fatbinan, Fatfora, Fatlalona, Fatlira, Fatrua, Fatsey, Fauth, Febby, Febesal, Felay, Feldbrugge, Felndity, Feninlambir, Fenjalang, Fenlop, Fenyapwain, Feoh, Fer, Ferlin, Ferdinandus, Fernandes, Fernando, Fernayan, Fesanrey, Fianberi, Fifaona, Fillips, Filmort, Firanty, Firley, Firloy, Fitron, Fiumdity, Flohr, Flontin, Flora, Floris, Flory, Fofid, Fol, Foor, Foraly, Forfan, Forinti, Formes, Forwet, Fower, Frabes, Franciz, Frandescolli, Frans, Franciscus, Franssisco, Fransz, Frare, Freely, Froim, Fuarisin, Fuller, Fursima, Futraun, Futural, Futuray

G
Gabriel, Gaflomi, Gahetto, Gahinsa, Gaite, Gaitian, Gamar, Gamgenora, Ganay, Ganobal, Ganza, Garbim, Gardjalay, Gardjey, Garium, Garlay, Garlora, Garpenassy, Garsiana, Gasko, Gasper, Gaspersz, Gelagoy, Gelfara, Genno, George, Geraldi, Geresi, Geslauw, Ghosaloi, Gigengack, Gill, Gisberthus, Geassa, Geers, Gerrits, Gerson, Giay, Gilbert, Gimon, Ginzel, Giop, Giovani, Givano, Gobay, Godlieb, Goeslaw, Gogerino, Gohir, Goin, Golf, Golle, Golorem, Gomes, Gommies (atau Gommis), Gordan, Gorfan, Gonimasela, Gonsalves, Gonzales, Gosain, Gosem, Gosjen, Goszal, Goteris, Goulaf, Granada, Grasselly, Grisel, Grobbe, Gudam, Gurgurem, Gurium, Gwedjor,


H
Habel, Habibu (atau Habibuw), Hadler, Hahijary, Haikutty, Hair, Hahury, Hakamuly, Hakapaä, Halapiry, Halawane, Halawet, Halirat, Hallatu, Haliwela, Hallauw, Halos, Haluly, Haluna, Haluruk, Hambaly, Hameda, Hammar, Han, Hanavi, Hanegraaf, Hanorsian, Haprekkunarey, Haratilu, Harbel, Haris, Harlen, Harmen, Harmusial, Harnia, Hartala, Hartety, Hartsteen, Hasbers, Haspers, Hassanussy, HATALAIBESSY, Hatane, Hataul, Hatharua, Hathelhela, Hatlessy, Hattu (atau Hatu), Hatuina, Hatuleli, Hatuluayo, Hatumessen, Hatuopar, Hatusupy, Hatusupit, Haulussy, Haumahu, Haumalaha, Haumase, Haurissa, Hauwert, Havelaar, Havterheus, Hawaä, Hayat, Hayer, Hayon, Helaha, Hehalatu, Hehalissa, Hehamahua, Hehamoni, Hehanussa (atau Hehanusa), Hehareuw, Heharu, Heideman, Heikoop, Heipary, Helaha, Heldernisse, Helermuri, Heleryoka, Helewend, Heljanan, Helma, Helnia, Helola, Heluth, Helwed, Helweldery, Hemar, Hemas, Henamony, Henaulu, Hendrick, Hendriks, Hendriksz, Hendrikus, Hendry, Hengkessa, Hengst, Hengtz, Henriques, Herekly, Heremkuy, Herin, Heriola, Herling, Herluly, Herman, Hermanus, Hermarna, Hermeling, Hernauw, Herpiou, Herus, Hetharie, Hetharia, Hetharion, Hetharua, Hetiahubessy (atau Hitahubessy), Heumasse, Heumassy, Heuvelman, Heyer, Hgairtety, Hiariej, Hilaul, Hiteler, Hitalessy, Hitijahubessy (atau Hetiahubessy), Hitipeuw, Hitrihon, Hitiyambessy, Hitto, Hilaul, Hiskia, Hitalesiakwany, Hitirissa, Hiulruur, Hiwy, Hlacronarey, Hoamoal, Hoffmeester, Hogendorp, Hokeyate, Hong, Holatila, Holika, Holle, Holthuisen, Homase, Hommy, Honorsian, Hoor, Horaszon, Hordembun, Horeyaam, Horhoruw, Horts, Horsael, Horsair, Horst, Horu, Hosea, Host, Huath, Hüffner, Huibers, Huik, Huily, Huka, Hukom, Hukunala, Hulkiawar, Hully, Huliselan, Huniake, Hunila, Huninhatu, Hunitetu, Hunsam, Hurasan, Hurlean, Hurry, Hursepuny, Hursina, Hursup, Hurwiora, Husen, Husein, Hutubessy, Hutuely, Huwaa, Huwae,


I
Ibkar, Ihalauw (atau Ihalahu), Ilella, Ilely, Ilery, Imasuly, Imea, Imkorle, Immink, Imoliana, Imsula, Imuly, Inanosa, Intopiana, Ipol, Irapanussa, Iraratu, Irkey, Iriley, Irloy, Irmuply, Isaac, Ishak, Iskiwar, Ismael, Isran, Istia, Italilpessy, Itamar, Itapaty, Itramury, Iwamony, Iwane, Iwar, Iyay, Iyon, Izaach, Izack,

J
Jacob, Jacobs, Jacobus, Jadera, Jaflaun, Jaftoran, Jahya, Jallo, Jalmav, Jamangun, Jambormias, Jamco, Jamrewav, Jamsaref, Jan, Jansay, Jansen, Janser, Janwarin, Jaolath, Jasso, Jeflely, Jekriel, Jellira, Jempormiasse, Jennia, Jerfatin, Jermias, Jeremias, Jesayas, Jethro, Jheo, Jimando, Jirlay, Jochems, Joel, Johan, Johands, Johansz, Johannes, Johannis, Joktimera, Jonain, Jonathan, Jones, Jooce, Joostensz, Joris, Joseph, Jotlely, Jozias, Juarsa, Julian, Julis, Jurben, Jurley, Justinus,


K
Kaary, Kabalessy, Kadmaer, Kadtabal, Kafroly, Kahaela, Kahyoru, Kaibobo, Kaidel, Kaihatu, Kaihena, Kailey, Kaillem, Kailola , Kailolo, Kaimahrela, Kainama, Kaipatty, Kaitjlapatay, Kaitjily, Kajihi, Kakerissa (atau Kakarissa), Kakiailatu, Kakiay, Kakihena, Kakesina, Kalabory, Kallaij, Kalqutny, Kamclane, Kamerkay, Kamsy, Kamuala, Kamukalawae, Kanaitang, Kanawa, Kannety, Kanony, Kapale, Kappuw, Kappy, Kapressy, Karafe, Karanelan, Karatem, Kareis, Karel, Karelaw, Karels, Karesina, Kariuw, Karmezach, Karolis, Karoni, Karspasina, Karsten, Kartensz, Karual, Karuna, Kary, Karyoma, Kasale, Kasamilale, Kasihiw, Kasihuw, Kasmanus, Kassirsz, Kassiuw, Kastanta, Kastanya, Kastella, Kasten, Kastera, Kastero, Kastra, Kasturian, Katayane, Katipana, Kay, Kaya, Kayadoe atau Kayadu, Kayapa, Kdise, Kedalil, Keddah, Kefbarin, Keikuhu, Keilalilota, Kelanit, Kelderak, Keliobas, Keljasa, Keljombar, Kelmaskov, Kelrey, Kelyaum, Kempa, Keppy, Karjapy, Kerthy, Keegel, Kerisoma, Kermite, Kerty, Kesaulya, Ketno, Keumasse, Key, Keyer, Kheral, Khoe, Khomaro, Khouw, Khongred, Khurnalla, Kifta, Kikalessy, Kilanresy, Kilbaren, Killay, Killy, Kilywe, Kilmas, Kipuw, Kirans, Kiriweno, Kirlelya, Kirwelak, Kisenrat, Kissia, Kivert, Klauw, Klavert, Klerock, Kloer, Klopfleisch, Knatmera, Kniesmeijer, Knyarilay, Knyarpilta, Kofit, Kohinsafun, Kohumarua, Kohunussa, Koimer, Koisine, Kok, Koknussa, Kolahatu, Kolahuwey, Kolakvera, Kolathena, Kolatveka, Kolelsy, Kolessy, Kolibunso, Kols, Komas, Komnaris, Komrey, Komsary, Konhud, Konoralma, Kooistra, Koraag, Koranelao, Korisen, Koritelu, Korlefura, Korlooy, Kormasella, Kornamne, Kornelis, Korsely, Kortefura, Kortman, Koryesin, Korytelu, Koslout, Kostantin, Kosten, Kotadiny, Kotalawa, Krestian, Kriekhoff, Krisop, Kromes, Kronenberg, Kruytzer, Kudmas, Kudusia, Kufla, Kuhuail, Kuhuparuw, Kuhuwael, Kuhurima, Kulit, Kumbansila, Kundre, Kursam, Kusapy, Kustely, Kuswara, Kuvla, Kuypers, Kwakernaak, Kwalomine, Kwanander, Kwarmona,


L
Laäle, Labalen, Labery, Labobar, Ladisary, Lafina, Lafuur, Lagraduay, Lahale, Lahallo, Laian, Laicerewy, Laidillona, Laikyer, Lailossa, Lailro, Laimesian, Laimeheriwa, Laimena, Laimera, Laimuslo, Lainata, Lainsamputty, LAISINA, Laisouw, Laitera, Laiterkuhy, Laitety, Laitjatamu, Lakavin, Lakawael, Lakburlawar, Lakfo, Lakuteru, Lala'ar, Lalihitu, Lalopua, Lamany, Lamawitaq, Lambartir, Lambertus, Lamderts, Lameky, Lamera, Lamers, Lamere, Lamerkabel, Lampira, Lendisyem, Langer, Langoru, Lanith, Lanjkatyela, Laodendulukh, Lapia, Laplelo, Lappy, Laratmase, Larjela, Larjerau, Larmokas, Larope, Larser, Larsoba, Larwuy, Laryana, Lasaaly, Lasamahu, Lasano, Lasatira, Lasera, Lasiomina, Lassol, Latarissa, Latekay, Lattan, Latuael, Latuamury, Latuasan, Latuary, Latubadina, Latuconsina, Latue, Latuharhary, Latuheru, Latuhihin, Latuihamallo, Latukaisupy, Latukolam, Latukolan, Latuny, Latupella, Latul, Latulanit, Laturua, Latumaelissa, Latumaerissa, Latumahina, Latumairissa, Latumalea, Latumanuwey, Latumanuseite, Latumapina, Latumeten, Latupapua, Latupeirissa, Latupella, Latuperissa, Latupraja, Latuputty, Latusia, Lattu, Laturake, Laturette, Laturputih, Latus, Latusinay, Latutubaka, Latuconsina, Latusallo, Latuwael, Latusuay, Lauhvy, Laukon, Launuru, Laurika, Lausepa, Lausiry, Lauterboom, Lavina, Lavuy, Lawalatta, Lay, Layabar, Lealessy, Leasa, Leansamputty, Leanwoar, Learity, Leasa, Leasiwal, Leatemia, Leatomu, Lebelauw, Lefmurmuri, Lefta, Leften, Lefteuw, Lefuga, Lefumonay, Lefuray, Legajir, Leikawa, Leimeheriwa, Leitemia, Leihitu, Leimena, Leipary, Leirissa, Leisisel, Leiwakabesy, Leiwier, Leite, Leivitar, Lekahatu, Lekahena, Lekairua, Lekal, Lekalaet, Lekalisa, Lekan, Lekatompessy, Lekawael, Lekenila, Lekerupy, Lekiohapy, Lekiora, Lekipiouw, Lekransy, Leksair, Leksona, Lelapary, Leleulya, Leleury, Leliweary, Leliyemin, Lelsury, Lellortery, Lemosol, Lenahatu, Lendersz, Lendert, Lenna, Leohena, Leomuda, Leonadal, Leonard, Leonary, Leonlina, Lepertery, Lepith, Lermer, Lerrech, Lerrick, Lesbassa, Lesbatta, Lescona, Lesel, Lesiasel, Lesiela, Lesilolo, Lesimanuaya, Lesirollo, Lesnussa, Lesomar, Lesputty, Lessidi, Lessil, Lessiputty, Lessituny, Lessy, Lestaluhu, Lesteru, Lestuny, Lestussin, Leisubun, Letelay, Lethulur, Let-Lei, Let-Let, Letlora, Letsoin, Letty, Letwar, Letwory, Leuhena, Leuhery, Leulier, Leundra, Leunufna, Leunura, Leurima, Leuwol, Levi, Lewaherilla, Lewahopa, Lewankiky, Lewansorna, Lewantour, Lewaru, Leweheri, Lewenussa, Lewerissa, Lewery, Lewibaker, Lewier, Lewna, Lico, Lidiperu, Lieando, Lienatha, Liesay, Liklikwatil, Likumahua, Liliefna, Liligoly, Lilihata, Lilihua, Lilipaly, Lilipory, Limaheluw, Limarloy, Limbers, Limehuwey, Limirubus, Limor, Linansera, Lindray, Linson, Liptey, Lipury, Lirrey, Lisaholeth, Lisapaly, Lisnario, Litaay, Litamahuputi, Litilohy, Litwart, Liufeto, Loby, Lobya, Lodarmase, Lodrigus, Lohy, Loilar, Loimalitna, Loimehiapy, Loirouw, Loisa, Loisoklay, Loiurro, Loka, Lokarleky, Lokollo, Lokra, Lolinwafan, Lomera, Lomesliden, Londer, Loomeyer, Lopes, Loppies, Lopuhaä, Lopulalan, Lopulissa, Lopumeten, Loran, Lorenzo, Lorwens, Losepta, Loswetar, Lotsepta, Lotusyera, Louhenapessy, Louhanapessy, Louhattu, Louhery, Louis, Loulolia, Loupatty, Loupias, Lourensz, Louth, Loutwaviokar, Louw, Lowaer, Loyra, Luamasse, Lucas, Ludimera, Lufkey, Luhukay, Luhulima, Lukmetiabla, Lukukay, Luis, Lukas, Lumalessil, Lumamuly, Lumanon, Lumatalale, Lumoly, Lumona, Lumuly, Lumyar, Lundberg, Lurika, Lusikooy, Lusnarnera, Lussy , Luther, Luturdas, Luturmas, Luturkey, Luturyaly.


M
Maäda’el, Maäil, Maähury, Maälette, Maänary, Maäsuly, Maätita, Maätitahputih, Maätitawaer, Maätoke, Maäturwey, Machmara, Macora, Macsurella, Madelis, Madethen, Madrach, Maelissa, Maerissa, Maghyn, Magista, Magistroy, Mahakena, Mahu, Mahubessy, Mahulete atau Mahulette, Mahupale, Mahwil, Maici, Maifor, Maigoda, Maiheuw, Maihoram, Maik, Mailera, Mailissa, Mailoa, Mailopuw, Mailuhu, Mainake, Mainasse, Mainasy, Maintor, Maipau, Mairera, Mairuhu, Maitha, Maitimu, Maituni, Makahinda, Makalew, Makalaypessy, Makarawe, Makasenda, Makatey, Makatita, Makeralo, Makewe, Makooy, Malagwar, Malaihollo, Malaka, Malakauseya, Malaluhon, Malawat, Malawau(w), Male, Malesi, Malinder, Malioy, Malirafin, Malirmasele, Malkus, Malloly, Mallur, Maloka, Maloky, Malonsilly, Manait, Manakane, Mancino, Mandalise, Mandessy, Mandry, Manduapessy, Mangar, Mangera, Mangidano, Manginsela, Manila, Manilet, Manintamahu, Manipa, Manina, Manlany, Mansilety, Mantauw, Manthol, Mantouw, Mantulameten, Manuel, Manuhuttu, Manufury, Manukelle, Manukiley, Manukily, Manupassa, Manuputti atau Manuputty, Manusama, Manusiwa, Maollo, Mapussa, Marantika, Marantha, Marasabessy, Marcus, Mardia, Mardjan, Marer, Mareray, Maressy, Maretray, Marian, Marguly, Marino, Marlay, Marolan, Marloune, Marlovolin, Maros, Marsela, Marthens, Maryanan, Marlissa, Marmusial, Maromon, Marthen, Marthinus, Marthius, Masado, Maruanaja atau MARUANAYA, Marwa, Maryate, Masbait/Masbaitoeboen (baca: Masbaitubun), Masella, Masesua, Masiglat, Maspaitella, Masriat, Masrikat, Massen, Matahelumual, MATAHERU, Matahurilla, Matakena, Matakupan, Matalatta, Matalatua, Matanassy, Matapere, Matatula, Matauseya, Materay, Matheis, Matheos, Matheus, Matinahoruw, Matitahmeten, Matimau, Matmey, Matinahoru, Matital, Matitaputty, Matloa, Matly, Matruthe, Matrutty, Mattale, Mattinahotuw, Matuahitimahu, Matualessy atau MATULESSY, Matuanakotta, Matulty, Maturbongs, Matuwalatupauw, Matwear, Mauauth, Mauberg, Maudara, Mauhema, Maulanny, Maulias, Mauressy, Maurits, Maussa, Mautheis, Mauweng, Mawara, Mawetars, Mayahy, Mayano, Mayaut, Mayor, Meckel, Mehedila, Mehen, Mehiwarleky, Mehmorlay, Mehmory, Meifarth, Meikdely, Melaira, Meliezer, Melmambessy, Melsadalim, Melsasail, Melwaer, Mendes, Mendoza, Menora, Merdio, Merweer, Mesack, Mesdila, Mesliden, Mesloy, Messa, Metalmely, Metaloby, Metanleru, Metekohij, Metehelemual, Metiary-Lumalessil, Metiora, Metjikit, Metrian, Meturan, Meute, Meyano, Meyer, Mezack, Michael, Mina, Minaelt, Minaely, Mioch, Miog, Mirlauw, Miru, Moeri, Moers, Mofun, Moksen, Molana, Moll, Molle, Monaten, Mondjil, Moneay, Moniharapon, Monipola, Monny, Montefalcon, Mora, Mores, Morgan, Morios, Morsen, Moryaan, Mosez, Mosse, Mouren, Mouw, Mozes, Mual, Muges, Mularen, Mulder, Muller, Munster, Muriolkossu, Murjani, Musaad, Musila, Muskitta, Mustamu, Mustany, Mutlay, Muya, Musly,


N
Nafali, Naflery, Nahaklay, Nahumarusy, Nahumuri atau Nahumury (atau Tuanahumury), Nahusuly, Nahusona, Nahuway, Naihonam, Naim, Nampasnea, Namserna, Namuru, Nanariain, Nandisa, Nanlessy, Nanlohy, Nares, Naressy, Nanulaitta, Nanuru, Nanusella, Naraya, Narayaman, Narmo, Naroly, Narua, Naryemin, Nasela, Naskay, Nasrany, Natan, Natasian, Natjikit, Natlayer, Natten, Natro, Nauwe, Navan, Nettana, Nicolaas, Niker, Nitakessy, Nitalessy, Nelson, Nife, Nikodemus, Nindatu, Ninkeula, Nisaf, Nendissa, Nengkuela, Nengkuelya, Nererain, Nerwel, Neva, Neyte, Ngelyaratan, Ngabalin, Ngamel/Ngamelubun, Nifmaskossu, Nikijuluw (baca:Nikiyulu), Nirahua, Nisdoam, Nivaan, Nokpay, Norimarna, Norwens, Nova, Novira, NOYA, Nugracia, Nuhuyanan, Nukuhehe, Nuniary, Nunlehu, Nunumete, Nurlatu, Nurlette, Nurtanio, Nurue, Nusaly, Nussy,


O
Octavians, Oersepuny, Ofan, Ohello, Ohoiledjaan, Ohoimar, Ohoiner, Ohoira, Ohoirenan, Ohoitavun, Ohoiwirin, Ohorella, Ohman, Oilira, Oita, Oktoseya, Oladasi, Olamando, Olczweski, Olinger, Oliver, Olivier, Oliviera, Olkteseja, Onaola, Onardo, Onarely, Onarloy, Ondy, Ongels, Ongkers, Onoly, Oosterhuis, Oppier atau Opir, Oraile, Oraplawal, Oraplean, Orindalim, Orno, Orun, Oryoin, Oshaer, Osleky, Ospara, Otmudy, Otta, Oudshoorn, Oybur,


P
Paaijs atau Paays, Pahar, Paija, Paihra, Pairhy, Pakaila, Pakaless, Pakkel, Pakniany, Palain, Palajo, Palapessy, Palpialy, Palencar, Palias, Palica, Palijama atau Palyama, Palijate, Palisoa, Palpia, Pamounda, Panjaito, Panpalares, Papilaya (atau Papilaja), Parera, Parety, Parewang, Pariama, Pariela, Parihala, Parinama, Parintah, Parinussa, Pariuri atau Pariury, Parjer, Paron, Parura, Pary, Pasalbessy, PASANEA, Paselima atau Passelima, Pasinau, Passa, Passal, Passau, Patawaria, Patehaduan, Pati, Patjanan, Patras, Patrouw, Pattalala, Pattawala, Patti, Pattianakota, Pattiapon, Pattiasina, Pattiata, Pattiiha, Pattihahuan, Pattiheuwean, Pattikairatu, Pattikawa, Pattileamonia, Pattileraonia, Pattileuw, Pattilouw, Pattimahu, Pattimaipauw, Pattimukay, Pattinama, Pattinasarani atau Pattinasarany atau Pattinaserany, Pattinaya, Pattinussa, Pattipawaej, Pattipeilohi atau Pattipeilohy atau Pattipilohy, Pattipeiluhu, Pattirajawane, Pattirousamal, Pattiruhu, Pattisahusiwa, Pattisamalo, Pattisapacoly, Pattiselanno, Pattiserliun, Pattisinay, Pattisia, Pattiwael, Pattiwaelapia atau Pattiwaellapia, Pattimura, Pattiusen, Pattotmen, Patty, Pattynama, Paturia, Paul, Paulain, Paulus, Paulusz, Paunno, Payara, Pay, Payer, Payessy, Pea atau Peea, Peca, Pehine, Peilouw, Peimahul, Peisina, Pelamonia, Pelapelapon, Pelapory, Pelasula, Pelaury, Peletimu, Pellata, Pellaupessy, Pello, Pelman, Pelmelay, Pelu, Pelupessy, Penny, Penu, Pentura, Pentury, Perdijk, Peres, Perez, Perklay, Perley, Perloy, Persulessy, Pertafun, Perulu, Peseletehahan, Pesireron, Pesiwarisa, Pesilette, Pessi atau Pessy, Pesoelima atau Pesulima, Pesurnay, Pesuwarissa, Peta atau Petta, Petrusz, Peuohaq, Peweloy, Phillips, Philippus, Pical, Picanussa, Picarima, Picasouw, Picauly atau Picaulima, Picauria, Piculima, Pieter atau Pieters, Pieterst, Pietersz, Pieris, Pieritsz, Pikason, Pinoa, Piris, Piries, Pirsouw, Pisarahu, Pitna, Pitoty, Pitries, Pocerattu, Pohirey, Pohwain, Poipessy, Pokar, Pokomasse, Pokrena, Polari, Polhaupessy, Pollatu, Polnaya, Polsiary, Polway, Polyn, Pomeo, Pony, Pooroe, Porce, Porfchy, Porkily, Porlary, Porloy, Pormes, Porsche, Porsiana, Porsisa, Porudara, Porulery, Porwaila, Porway, Postema, Postma, Potoruw, Prans, Pronk, Proprey, Prossy, Proym, Pulumahuny, Pupella, Purimahua, Putiheruw, Putirulan, Puttileihalat, Puttineta, Puttiray, Putuhena, Puturuhu, Puyamna, Pynuslan,


Q
Que, Queljoe, Quezon,


R
Rachil, Radamussa, Radiena, Radjabaycolle, Radjawane, Rafael, Rafel, Rafupaira, Ragalomi, Rahabav, Rahabeat, Rahaded, Rahado, Rahael, Rahajan, Rahakbauw, Rahalob, Rahankey, Rahaor, Rahanra, Rahansikwer, Rahanten, Rahawarin, Rahayaän, Rahalus, Rahangier, Rahangmetan, Rahankuren, Rahansamar, Rahentus, Rahanwatty, Rainony, Raja Boean, Rajab, Rajawane, Ralahallo, Ralahalu, Rambers, Ramchic, Ramon, Ramschie, Ranguly, Rarsina, Ratissa, Ratsehaka, Ratsina, Ratte, Ratuhalin, Ratukoten, Ratulohain, Raturomon, Ratuteher, Raude, Raviv, Rea, Reane, Reawaruw, Reasoa, Rebiltaban, Recy, Redonov, Reeyk, Reffialy, Refilely, Refilteman, Refualu, Refun, Refwalu, Regel, Rehatalanit, Rehatta, Rehiary, Reihara, Reilely, Reimas, Reinhard, Reinould, Reintjes, Reiper, Reitiwal, Reken, Relew, Relmasira, Remialy, Remkes, Remmona, Rendat, Ren-El, Renfan, Renfarak, Rengil, Rengirit, Renhoar, Renhoran, Renhuard, Reniban, Renleeuw, Renmaur, Renolat, Renoult, Rentor, Rentua, Renuf, Renuw, Renwer, Renwet, Renyaän, Rerebain, Reressy, Rerinne, Rering, Rery, Resbal, Residay, Resie, Resilowy, Resimery, Reslanut, Reslev, Resley, Resmol, Respessy, Ressel, Ressok, Restuny, Rettob, Reunussa, Revalo, Revo, Revualo, Rey, Reyk, Reyth, Rheebok, Ria, Riamlias, Ribock, Richard, Rici, Ridtjab, Rieuwpassa, Rihna, Rihulay, Rijoly, Rikiwelas, Rikumahu, Rirlherta, Rinsampessy, Riri, Riry, Ririasa, Ririhatuela, Ririhena, Ririmasse, Ririmasu, Riripoy, Riry, Rirsouw, Risahondua, Risakotta, Risamassu, Risamena, Risambessy, Risampessy, Risapori, Risreuw, Risteruw, Ritananuku, Ritawaemahu, Ritho, Ritiauw, Rivai, Riyanda, Road, Roberth, Robertho, Röder, Rodja, Rodriguez, Roffe, Roge, Roirelmasira, Rolas, Rolobessy, Romean, Romalaha, Rombaello, Romeon, Rommer, Romera, Rometna, Romhery, Romkeny, Romlioni, Romlus, Romode, Romohoira, Rompies, Romrainy, Romsery, Romumoij, Romtia, Romuty, Roos, Rooy, Ropena, Rorafuy, Rorainy, Rosen, Rosevelt, Rosfader, Rossi, Rostary, Rosumbre, Rotasouw, Roteltap, Rotobessy, Ruban, Ruff, Rügebregt, Rugebreith, Ruhukail, Ruhulessin, Ruhulessy, Ruhupessy, Ruhunlela, Ruhunussa, Ruhupatty, Rukka, Ruimassa, Rumalattu, Rumailal (Rumaillo), Rumalaiselan, Rumalaselan, Rumalatea, Rumalewang, Rumaloine, Rumamina, Rumamory, Rumappar, Rumasoal, Rumthe, Rumfaan, Rumaf, Rumadery, Rumahenga, Rumakety, Rumalaiselan, Rumangun, Rumarihu, Rumaruson, Rumasella, Rumbalifar, Rumbouw, Rumew, Rumfaan, Rumfot, Rumlaän, Rumles, Rumlus, Rumngevur, Rumphius, Rumpis, Rumpuin, Rumsory, Rumthe, Rupisiay, Russel, Ruspanna, Russyn, Rusten, Rutumalesi, Rutunalessy,


S
Saämena, Sabandar, Sabonno, Sadsuitubun, Safenussa, Sagena, Sahabudin, Sahanaya, Sahalessy, Sahar, Saharui, Sahertian, Sahetapy, Sahetumby, Sahilatua, Sahlan, Sahuburua, Sahulata, Sahuleka, SAHUREKA, Sahupalla, Sahusilawane, Said, Saidely, Saija (atau Tuasaija dari Nunusaku. baca: Saiya, Tuasaiya), Saihainenia, Saihitua, Sailapra, Sailele, Saimima, Saimorsa, Sainafat, Saineran, Sainlia, Sainyakit, Saipelessy, Sairas, Sairdama, Sairduly, Sairkora, Sairlela, Sairlona, Sairlouth, Sairpaly, Sairseta, Saiselar, Saitian, Sairtory, Saklil, Sakliressy, Salahalo, Salahay, Salaka, Salakory, Salamahu, Salambessy, Salambona, Salampessy, Salamena, Salamony, Salamor, Salasiwa, Salatalohi, Salawane, Saleky, Salhuteru, Saliha, Salkery, Sallira, Salomon, Salmon, Salosso, Salurilla, Samadara, Samafat, Samal, Samall atau Samallo, Samaleleway, Samanerey, Samar, Samadara, Samasal, Samder, Samen, Samkay, Samloy, Samollo, Sampulawa, Samson, Samual, Samuel, Samusamu, Sanahu, Sanaky, Sanders, Sandert, Sangaji, Santiago, Sapacoly, Sapalewa, Sapasuru, Sapia, Sapulete, Saptenno, Sapsuka, Sapthu, Sapury, Sapya, Saquarella, Sardinson, Sarimolle, Sarioa, Sarkol, Sarloy, Sarmaly, Sarmanella, Sarusway, Sasabone, Sasake, Sasole, Saulissa, Sauruy, Savsavubun, Schaduw, Schenkuysen, Schrifen, Sedubun/Sedoeboen, Seamiloy, Seane, Seay,Seilano atau Selano, Seimahuira, Seimahuwa, Seipalla, Seipattiratu, Seipattiseun, Seir, Seite, Sekarone, Sekewael, Selanno, Selatnaya, Seldjatem, Selgader, Seleky, Selfenay, Sella, Selra, Selsily, Seltubir, Seluhollo, Selvara, Selvuan, Sem'ula, Senor, Septorday, Septory, Serandoma, Serhalawan, Serin, Seriven, Sermaf, Serpara, Serpiela, Serro, Serumena, Serusiay, Sersian, Sesye, Setha, Setty, Seuw, Sewta, Siahanenia, SIAHAYA, Siaila, Sialana, Siane, Sianressy, Siarukin, Sichers, Siegers, Sienaya, Sieto, Sifata, Sigin, Sigmarlatu, Sihasale, Sikte, Sila, Silahooij (baca: Silahoy), Silara, Silawane, Silawanebessy, Siletty, Silfanay, Silgaden, Silipory, Silkaty, Sillueta, Sillouw, Silooy, Silvera, Simaela, Simatouw, Simao, Simon, Simona, Sina, Sinamona, Sinatti, Sinay (atau Tuasinay), Singadji, Singerin, Sinia, Sinmiasa, Sintiory, Sinyendir, Sipahelut, Sipasulta, Sipiel, Sipolo, Sirdjoir, Sirken, Sirlay, Sirsobad, Sitanala, Sitania, Sitaniapessy, Siutta, Siwabessy, Siwalette, Sklaressy, Slarmanat, Slassa, Slubyanik, Snall, Snylau, Snyopwain, So, Soakakone, Soares, Socnosiwy, Sodefa, Soentpiet, Sogalrey, Sohilait, Soin, Soindra, Solarbisain, Solehuwey, Solemeda, Solefucy, Solgarey, Solinav, Solissa, Solmeda, Solukh, Somae, Somes, Somey, Songbes, Sonray, Sooch, Sopacua, Sopacuaperu, Sopaheluwakan, Sopamena, Sopaoia, Soparue, Soparve, Sopla, Soplatu, Soplanit, Soplantila, Soplely, Soplera, Soplero, Soprali, Sorfay, Sorfory, Soriale, Soriton, Sorluri, Sormin, Sormudi, Sorsery, Soruday, Soselissa, Sotja, Souhally, Souhoka, Souhuken, Souhuwat, Souissa, Soukotta, Soukully, Soulinay, Soulissa, Soumeru, Soumete, Soumokil, Soumory, Soumulin, Souripet, Soyem, Spies, Srue, Stanly, Stefanus, Suad, Sucelaw, Sula, Suiker, Suitella, Suli, Sulilatu, Sumanik, Sumany, Sumual, Suneth, Sunloy, Supulatu, Supusepa, Surey, SURIBORY, Suripatty, Surker, Surlia, Sutaner, Sutrahitu, Suttela, Syahailatua, Syaharanie, Syaranamual, Syatauw, Syauta, Syelau, Syeramwain,


T
Tabalessy, Tabavmolu, Tabelssy, Taberima, Taborat, Tackow, Tahallea, Tahalele, Tahamata, Tahanora, Tahapary, Tahiya, Tahitoe atau Tahitu, Tahoes, Tahor, TAIHUT¬¬¬¬¬U, Tail, Takahepis, Takarbessy, Takaria, Talabessy, Talahatu, Talahaturuson, Talakua, Talaksoru, Talanila, Talla, Tallane, Tallaut, Tamaela, Tamalsir, Tamarmans, Tambalangi, Tamher, Tamonob, Tamtelahitu, Tan, Tanahatu, Tanahitumessing, Tanalepy, Tanalisan, Tanamal, Tanee, Tanalea, Tanalessy, Tanate, Tanesya, Tangahu, Tanic, Tanifan, Tanikwele, Taniwel, Tansora, Tantoly, Tanwey, Tapilow, Tarantein, Tarehy, Tarinathe, Tarumaselly, Tarusy, Tasaney, Tasidjawa, Tassane, Tataperuw, Tatipatta, Tatipikalawan, Tatuhey, Tauran, Tauatanasse, Tawaerubun, Tayalla, Tayl, Tebiary, Tefara, Tehuayo, Tehubijuluw (baca:Tehubiyulu) , Tehupeiory, Tehupelasury, Tehusiarana, Tehupuring, Tehusyarana, Tehuwayo, Teis, Teky, Telepary, Teliaur, Telsuera, Temmar, Tenine, ten Cate, ten Have, Telussa, Tengens, Tentua, Tepal, Terinate, Teriraun, Terling, Terlir, Terloit, Termas, Termature, Terry, Terseman, Tertimelay, Tertroman, Teslatu, Tesno, Tetelay, Tetelepta, Teterissa, Tethool, Tetikay, Tetlageni, Tetrapoik, Tety, Tevtuar, Tharob, The, Thebez, Thecher, Thedy, Thelessy, Themin, Thenager, Thenu, Theny, Theodorusz, Theofilla, Theorupu, Theovilus, Thernando, Theruty, Thesman, Thetius, Theuw, Thiemailattu, Thienus, Thiesman, Thinar, Thio, Thiosubu, Thiotansen, Thobias, Thomas, Thorion, Thovian, Thto, Thung, Thyssen, Tjuparia, Tiahahu, Tianotak, Tibalea, Tibalimeten, Tielman, Tifof, Tigele, Tildjuir, Timahery, Timisela, Timotius, Tilukay, Tiotor, Tipalameten, Tipialy, Tipuria, Tirel, Tisera, Titariuw, Titasen, Titawanno, Tiwery, Titahena, Titaheru, Titaley, Titapasanea, Titarsole, Titarsoley, Titasomi, Titawananno, Titiheru, Titus, Tiven, Tiwery, Tjialfa, Tlingkery, Tobelo, Toberwaer, Toffy, Tohatta, Toisuta, Toker, Tomadina, Tomahu, Tomaluweng, Tomasila, Tomasoa, Tomasouw, Tomatala, Tomaula, Tomhissa, Tomia, Tomio, Tomoria, Tomyar, Tonikoe, Tonrate, Tooren, Topurlay, Topurtawy, Toras, Toressy, Torlain, Tormyar, Torry, Tosane, Tosil, Tousalwa, Touwe, Towait, Trando, Tromlakor, Tromlay, Trona, Ttehelu, Tuahattu, Tuatfaru, Tubalawony, Tuahuns, Tuakora, Tualena, Tuanahu, Tuanahumury atau Nahumury, Tuanani, TUA¬¬¬NAKOTTA, Tuankotta, Tuanaya, Tuanger, Tuapattinaya, Tuarissa, Tuasaija dari Nunusaku atau Saija (baca:Saiya), Tuasamu, Tulaseket, Tuasella, Tuasinay atau Sinay, Tuasuun, Tuatanassy, Tubalawony, Tuharea, Tuhehaij, Tuhilatu, Tuhuleruw, Tuhumena, Tuhumuri atau Tuhumury, Tuhuteru, Tuhusula, Tulalesia atau Tulalessy, Tuluheru, Tumansery, Tumury, Tunyluhulima, Tupalessy, Tupamahu, Tupan, Tupanno, Tupanwael, Tupasouw, Tupawael, Tupenalay, Tuquiha, Turben, Turgey, Turmua, Turubasa, Turuy, Turukay, Tusmain, Tuther, Tutkey, Tutuarima, Tutuhatunewa, Tutuiha, Tutupary, Tutupohu, Tutupoly, Tuwanak¬otta, Tuwatanassy, Tuapetel, Tuasikal, Tumober, Tuparia, Turkey, Tusyek, Tuurfon, Tyssenraad,


U
Ubfan, Ubleeuw, Ubra, Udigary, Udinera, Ukru, Uktolseya, Uktosya, Ulate, Ulorlo, Ulter, Umagaf, Umasugi, Umhersuny, Unarapal, Unatenina, Unemlora, Unenor, Uneputty, Unilefta, Uniplaita, Unitly, Unkelefta, Unmehopa, Unola, Unsia, Untarolla, Unwakoly, Uperessy, Upessy, Ur, Urath, Uray, Urayawa, Urbayani, Urbansini, Urdjel, Urel, Uren, Urilal, Urlyoly, Ursia, Uruilal, Urutmaan, Usemahu, Usman, Usmani atau Usmany, Uspessy, Uspitany, Utanno, Uwella, Uwen, Uvuuratuw, Uze,

V
van Afflen, van Amstel, Vanath, van Belouw, van Bergen, van Bokhove, van Bulow, van Bussel, van Capelle, van Caspel, van Delsen, van de Haare, van der End, van der Kloor, van der Meer, van der Sluis, van der Weden, van der Zee, van Diest, van Dijk, van Driel, van Enst, van Exel, van Gils, van Harling, van Hoogmoed, van Houten, van Irsel, van Joost, van Nieuwenhuizen, Vanon, van Puffelen, van Ringen, van Room, van Saker, van Strijland, van Suiker, van Sukker, van Surker, Vavuu, Veerman, Veenendaal, Verhagen, Versteegh, Vetegh, Victor, Vidlela, Vijsel, Vinola, Visser, Vollebregt, Voly, Voriume, Vorst, Vriese, Vun


W
Waäel, Waasar, Waas, Waber, Waelaruno, Waifly, Walagwaor, Wally, Wamona, Wangarwy, Wantaar, Warella, Wariunsora, Wacanno, Wael, Waeleruny, Waerisal, Wails, Wailussy, Wairatta, Waisapy, Wakan, Walaia, Walsen, Walten, Wamesse, Wance, Wanne, Warbal atau Warbala, Warbel, Warella, Waricey, Warkey, Warkor, Wasia, Watloly, Watmanlussy, Watmersan, Watrimny, Watsira, Wattiheluw, Wattilete, Wattimanela, Wattimena, Wattimury, Waulath, Wayerjuari, Weber, Wedilen, Wee, Weeflaar, Weheb, Wehfany, Welary, Welafubun, Weler, Wellem, Wellikin, Wemay, Wemaf, Wenehen, Wenger, Wenno, Wenus, Weridite, Werinussa, Wesplat, Wessy, Wetamsair, Wewra, Wewza, Wifly, Wilfred, Willys, Wilyams, Wlena, Woersok, Wohel, Woherhair, Wohir, Woley, Wolff, Wolontery, Wonatha, Wonhery, Wonley, Wonmaly, Wonsera, Woolf, Woriun, Wotheisen, Wothouzen, Wuisan, Wuarlijma, Wuctres, Wurletta,


Y
Yabar, Yabarmase, Yadera, Yafur, Yahawadan, Yakob, Yalmav, Yambreswav, Yamla'ay, Yamrat, Yamvav, Yani, Yantel, Yanuby, Yaranmassa, Yarin, Yauply, Yauris, Yebassy, Yehelissa, Yehuda, Yemnifan, Yenussy, Yerigair, Yerwuan, Yesaya, Yesayas, Yeuyanan, Yeviwra, Ynawarin, Yoel, Yohanes, Yohanis, Yokohael, Yoktery, Yolmen, Yonenain, Yongnaim, Yoor, Yoram, Yordan, Yoris, Yoseph, Yosieto, Yousaf, Yubibyanan, Yulianus, Yunus, Yusak, Yusuf,

Z
Zacharias, Zainilessy, Zakeus, Zalkheus, Zamon, Zaverius, Zein, Zoin, Zue, Zuley, Zijlstra,¬¬ss




Pengurus & Pembina IPPHAR Periode 2009-20013

No : 01 / KPTS / ORG / IPPHAR / 04 / 2000
Ketua : Mersy Sahureka
Sekretaris : Jopy Siahaya
Bendahara : Els Timisela
Bendahara I : Ince Siahaya
Ketua I "Organisasi dan Kerumahtanggan"
Jonny Taihuttu
Ketua II "Pelayanan dan IPTEK"
Semmy Siahaya
Ketua III "Keesaan dan Pembinaan Umat"
Thos Noya
Ketua IV "Pekabaran Injil dan Komunikasi"
Gusmon Sahureka
Ketua V "Finansial dan Ekonomi"
Simon Tuanakotta

Sekretaris I : Hesty Soakakone
Sekretaris II : Eby Sinay
Sekretaris III : Nelson Tuanakotta
Sekretaris IV : Heidy Siahaya
Sekretaris V :Ifhien Noya

Pembantu Bidang I : Messie Nahusona
Pembantu Bidang II : Willy Noya
Pembantu Bidang III : Novie Manuputty
Pembantu Bidang IV : Lucky Birahy
Pembantu Bidang V : Yoke Tuanakotta

Koordinator Wilayah
Yenny Latuihamallo
Danny Siahaya

Pembina :
1. Bpk Frits Noya
2. Bpk Au Noya
3. Bpk Tjak Noya
4. Bpk Eca Noya
5. Bpk Hend Sahureka
6. Bpk Rudy Latuputty
7. Bpk Polly Taihuttu
8. Bpk Enang Tuanakotta
9. Ibu Obe Matulessy / Noya
10. Ibu Ina Noya / Laisina
11. Ibu Ine Siahaya / Birahy

Sapaan Yang Perlu Diketahui

Aha'one = Apa kabar / bagaimana
Aha'toea = Bai-bai
Momo = Om
Marua = Ua
Matuan / Upu = Tete
Tahina = Nenek
Wa'a = Kakak
Wari'u = Adik
Ina = Ibu / mama
Ama = Bapak
Malamait = keponakan (anak dari saudara perempuan)
Manua = Keponakan (Anak dari saudara laki-laki)

Jang Lupa Beta

Beta satu-satunya di mana ale di Lahirkan, beta satu-satunya di mana ale di Besarkan, beta satu-satunya di mana ale dapat Berlindung, beta jaga, beta piara, beta satu-satunya sosok yang biking ale jadi bagini. Biar beta kasiang-kasiang biar beta kurang-kurang tapi beta seng perna lupa ale dong samua karena beta tahu beta pung ana, pung cucu, pung cece for dong samua biar su seng ada apa-apa tapi beta salalo usaha for kasi hidop dorang samua biar akang jadi jagong muda sabuah biar akang jadi papeda kasbi sabale deng biar akang jadi laor sasendo asal for lia ale dong samua bisa jadu guru yang berbobot, tentara yang setia, pegawai yang sukses, pendeta yang bermoral deng laeng-laeng lai,,,beta salalo berkorban for ale dong samua, ale dong lapar? Ada lautan yang luas…… dari pohon Baringing sampe di pante Tihnitu beta simpang samua hasil lautang for ale dong samua, ada ikan gusau, ada talor lau,ada bia garu, sampe laor jua beta simpang for ale dong samua itu kalo ale dong lapar akan hasil laut, dari tikungan Es sampe di Tihnitu dari Waelang sampe di Hatosui ada samua yang beta sediakan for ale dong samua, ada cengke deng pala, ada jagong deng kacang, ada coklat deng doriang, asal for ale dong mau kaluar bawa beta pung nama bae, asal for ale dong mau kasi harum beta pung nama di negeri orang beta akan salalo berjuang for ale dong samua tapi beta seng mau dengar orang bilang beta pung ana jadi preman di jawa, jadi pancuri, jadi pamabo, jadi pantop deng labe-labe jadi pemakai narkoba. Ana-ana,,,eee cucu-cucu,,,eee cece-cece,,,eee beta seng mau ale dong jadi bagitu yang beta mau Cuma ale dong jadi orang yang sukses orang yang hebat deng jadi orang basar kalo ale dong su jadi orang sukses beta sangat bangga karena beta pung hasil tanam beta tuai akang deng hasil yang sangat bae pula… supaya saat kajadiang deng tambaru ale dong pulang beta lia ale dong beta pung umur tamba panjang…. beta pung hati ni rasa lega… mari beta salalo tunggu ale dong pulang ada nyiur kalapa yang salalo game ale dong pulang ada omba Yanain su tunggu ale dong samua beta su siap sambut ale dong samua di tikungan Es mari pulang jua biking bagus beta lai… beta seng minta banya Cuma yang beta minta dari ale dong samua jang lupa beta.. ale dong pung negeri tercinta Hulaliu Haturessy Rakanyawa tercinta.

By : Nelson. B. Tuanakotta

Kerja Gereja

Bapak Uka Noya, turut hadir dalam kegiatan kerja gereja
Bpk Reny Sahureka, sementara berada di bak penampungan semen dalam proses pengecoran slop tiang
nampak besi-besi yang siap untuk proses pengecoran tiang, ditunggu waktu mengeringnya slop barulah dilakukan pengecoran tiang

ASAL MULA VAAM SIAHAYA

Untuk mengenal suatu nama, maupun nama seseorang tergantung dari pergaulan didalam masyarakat atau di dunia pendidikan maupun di mana saja.
Pada zaman sebelum masuknya agama nama seseorang itu diambil atau diberikan sesuai dengan waktu, keadaan dan tempat dimana ia dilahirkan. Misalnya di bulan Juli anak itu diberi nama, Julis atau kalau seperti di kapal anak itu di beri nama sesuai dengan nama kapal, misalnya KAMHEIS.
Setelah masuknya agama orang lalu memilih nama di dalam kitab suci seperti Alkitab yaitu, Yunus, Yakub, Yusuf dll. Di zaman modern ini orang lalu gemar memilih nama mengikuti bintang Film idolanya.
Nama SIAHAYA pada sebelum masuknya agama adalah SOURISA yang artinya Pengatur bicara dalam kerusuhan atau huru-hara. Jadi - SOU Artinya bicara,- RISA Artinya Kerusuhan / Huru-hara Bila orang dari marga Siahaya itu lahir dari ibu maka ia mempunyai nama : MARA. Jika dari ibu yang verasal dari marga Taihuttu maka ia disebut MARAPIKA, bila dari ibu NOYA maka ia disebut MARALESI. Sebab nama PIKA atau lesi inipun di berikan kepada anak-anak sebulum masuknya agama, dan manusia-manusia mulai dibabtiskan.
Berdasarkan keadaan seperti yang diuraikan di atas. Maka SOURISA di ubah menjadi SIAHAYA oleh karena waktu pembabtisan Sourisa ini datang terlambat jadi babtisannya seakan dipaksakan. Jadi setelah babtisan, perubahan Sourisa menjadi SIAHAYA berasal dari kata SIAHEKA / KEHAYEYA artinya dia sudah lulus atau beruntung.
Pembabtisan yang terjadi pada negeri ini turun dari pedalaman kelompok demi kelompok sehingga ternyata Siahaya yang datang terakhir, adapun tempat pembabtisannya adalah satu tempat di negeri Hulaliu yang bernama URUMAU. Uru ( Kepala ), Mau (halus / kecil ) jadi Urumau artinya kepala kecil/halus.
Setelah orang orang ini mau di babtiskan mereka masih mengikat kepala dengan kain yang disebut oleh mereka DESTAR. Ketika Destar hendak dilepaskan saat di babtis, kepala mereka kelihatan kecil / halus sehingga disebut URUMAU seperti yang diuraikan tadi. Hal ini sesuai dengan lani / Kapata yang selalu di nyanyikan yaitu : Ipusu,u’in Rahitaue Heriurui Inusu,u’ Nasarane. Yang artinya ia lepaskan Destarnya dari kepala dan mengaku masuk agama RK.
Jadi Siahaya berasal dari kata Siahayeya / kihayeya yang artinya ia sudah lulus atau berbahagia.
¬¬¬¬¬Dituturkan oleh Elsama Siahaya “Tete Ama” (Almarhum)

Nama-nama PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA BARU

Lampiran : Surat Keputusan No. 01/HLL/E.1/12/2007
Tentang Komposisi dan Personalia Panitia Pembangunan Gedung Gereja Baru Hulaliu

Penasehat : Raja negeri Hulaliu
: Ketua Majelis Jemaat
Pembina :
1. Bp. J. Isaak
2. Bp. Drs. M. M. Titaley
3. Bp. Luk Taihuttu. BA
4. Bp. Keni Sahureka
5. Bp. Drs. A. O. Noya
6. Bp. Utju Laisina
7. Bp. Nyong Sahureka

Ketua : Bp. J. Sahureka. BA
Wakil : Bp. Max Noya (Broiten)
Sekretaris : Sdr. Jafry Taihuttu. SH
Wakil : Bp. Ampi Laisina
Bendahara : Bp. Drs. Jop Noya
Wakil : Bp. Dony. F. Noya
Seksi Teknis Pembangunan

Ketua : Ir Hendry Sahureka, MT
Wakil : Bp. Lex Noya
Anggota :
1. Ir. Ny. Ita Latupapua/ N
2. Fieter. L. Frans. ST
3. Ny. N. N. Frans/ Sahureka. ST
4. Bp. Max Tuanakotta. ST
5. Bp. Direk Sahureka. ST
6. Bp. Wen Taihuttu. ST
7. Bp. Billy Noya. ST
8. Bp. Rudy Simaihira. ST
9. Bp. Yosi Noya. AMD
10. Bp. Max Mataheru
11. Bp. Max Noya (Suli)
12. Bp. Emang Latuihamallo
13. Bp. Polly Siahaya
14. Bp. Lex Sarlia
15. Bp. Ica Titaley
16. Bp. Nus Siahaya (Benyo)
17. Bp. Ica Siahaya
18. Bp. Epu Siahaya
19. Bp. Yang Latuihamallo
20. Bp. Epu Laisina
21. Bp. Memu Siahaya
22. Bp. Memu Laisina
23. Bp. Acia Noya
24. Bp. Bau Laisina
25. Bp. Ferry Makoy
26. Bp. Cada Renwarin
27. Bp. Ceu Noya
28. Bp. Frans Siahaya
29. Bp. Losiri Siahaya
30. Bp. Berhti Timisella
31. Bp. Ely Nanulaitta
32. Bp. Hengky Birahy
33. Sdr. Ampi Tahapary
34. Bp. Wem Noya
35. Bp. Jopi Hatalaibessy
36. Bp. Nus Akihary
37. Bp. Au Sinay
38. Bp. Au Matulessy
39. Bp. Kres Pattiradjawane
40. Bp. Yani Siahaya
41. Bp. Evert Laisina
42. Bp. Meiko Kilonressy
43. Bp. Ais Nanulaita
44. Sdr. Elvis Siahaya
45. Bp. Jopi Siahaya
46. Bp. Ica Tuanakotta
47. Bp. Ance Siahaya
48. Bp. Hesbert Siahaya
49. Bp. Wem Noya
50. Bp. Max Noya (Badung)
51. Bp. John Timisella
52. Bp. Heng Hatalaibessy
53. Bp. Hengky Noya
54. Bp. Abang Maruanaya
55. Bp. Abang Noya (Ahe)
56. Bp. Rishard Taihuttu
57. Bp. Cos Laisina
58 Bp. Ica Noya (Nang)

Seksi Usaha Dana
Ketua : Bp. A. Noya (Emang)
Anggota
1. Bp. Keny Sahureka
2. Bp. A. Latuipeirissa
3. Bp. Toni Birahy
4. Bp. Drs. D. Siahaya
5. Bp. Drs. Bob Siahaya
6. Bp. Nus Tuanakotta
7. Bp. Utju Tuanakotta
8. Bp. Thomas Matulessy. S.Sos
9. Bp. Drs. Iphi Siahaya
10. Bp. Andy Tuanakotta
11. Bp. Mesak Fritz Noya
12. Bp. Polly Noya SPd
13. Bp. Bob Taihuttu (Guru)
14. Bp. Neles Noya (RRI)
15. Bp. Semy Siahaya. SE
16. Bp. Stef Noya
17. Bp. Drs. Tjo Laisina
18. Bp. A. Noya (PDAM)
19. Bp. Drs. Tjak Noya. Mkes
20. Bp. Etja Noya. TNI
21. Bp. Polly Taihuttu. S.Sos
22. Ny. Yul Izaac/ Upressi
23. Ny. Lin Nahusona/ P
24. Bp. Buje Maruanaya
25. Ny. Natje Kailola/ Noya
26. Bp. Weinan Tuanakotta.S.Sos
27. Sdr. Manu Sahureka
28. Sdr. Mon Sahureka
29. Sdr. Stevi Titaley. ST.Msi
30. Bp. Drs. Jemy Lesnusa
31. Bp. Ir. Bob Birahy
32. Bp. Drs Nus Taihuttu
33. Bp. Teo Noya (Karpan)
34. Nn. Levy Noya. S.Sos
35. Bp. Tos Tuanakotta
36. Bp. Tos Tahapary

Seksi Konsumsi
Ketua : Ibu. Ona Tuanakotta/ N
Wakil : Ibu Evi Matulessy
Anggota
1. Ibu. M. Noya Laisina
2. Ibu. Tien Ngarbingan/ Noya
3. Ibu. An Sasabone
4. Ibu. Cori Birahy/ S
5. Ibu. Tenci Tuanakotta
6. Ibu. Lina Noya
7. Ibu. Ana Noya
8. Ibu. Ata Nanulaitta
9. Ibu. Ice Laisina
10. Ibu. Cory Siahaya
11. Ibu. Ata Noya
12. Ibu. Cory Laisina
13. Ibu. Luci Noya
14. Ibu. Oba Matulessy
15. Ibu. Nona Siahaya/M
16. Ibu. Lucy Tahapary. S
Di tetapkan di : Hulaliu,
Pada tanggal : 23 Desember 2007

Majelis Jemaat
Ketua Sekretaris

Pdt. J. Lopuhaa Pnt. S. Siahaya

KAOS HATURESSY ANAI



• Wujudkan kecintaan anda, dan nyatakan jati dirimu dengan mengenakan kaos HATURESSY ANAI (Anak Haturessy)
• Kaos Sablon Hasil Karya Pemuda Pelajar Haturessy Rakanyawa. Desain oleh Nelson Tuanakotta, Maryo Tuanakotta, Ian tita, Dicetak di Studio Aha’one IPPHAR-Ambon Oleh Dortji Laisina, Jony Taihuttu, dkk,
• Pesan segera di Ince Siahaya 085243491712, untuk luar Ambon ditambah biaya pengiriman
Nn Hesty Soakakone, Cucu dari Bastian Soakakone Mengenakan Baju Haturessy Anai.

BEKERJA UNTUK KERJA GEREJA



Sabtu, 28 Maret 2009

Pagi itu tidak ada pekerjaan di lokasi gereja. namun banyak ibu-ibu bapak-bapak dan para pemuda ke Hutan untuk mengumpulkan batu. Batu ini dikumpulkan bukan untuk membangun gereja tapi untuk dijual kepada kontraktor yang sementara menyelesaikan proyek talud di Negeri Hulaliu tepatnya di belakang rumah bapak Bram Maruanaya.
Masing-masing sector dengan sukacita berusaha untuk mengumpulkan batu 15 Kubik persektor, Batu yang seharga 70 ribu rupiah per kubik ini dijual agar dapat membiayai konsumsi tiap sektor yang selalu bekerja, karena bila tidak demikian maka tiap keluarga harus menanggung biaya untuk konsumsi. Inisiatif bekerja untuk kerja gereja ini diambil agar mengurangi pengeluaran keluarga.
Dengan demikian maka jelas bahwa Jemaat dan warga Hulaliu “Haturessy Rakanyawa” yang sementara ada dalam proses pembangunan Gedung gereja baru benar-benar adalah jemaat yang mau bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk mewujudkan sebuah Gedung Gereja Baru.

PROFIL ELVIS SIAHAYA


“Inilah Saat kita” begitulah kalimat yang diungkapkan oleh Elvis Siahaya yang mengandung banyak arti. Ia menambahkan bahwa sekarang saatnya bagi kita generasi muda yang ada untuk berkarya bagi pembangunan gedung gereja Hulaliu. Bayangkan banyak orang tua-tua kita yang memiliki kemampuan membangun dan ketrampilan pertukangan yang handal namun mereka tidak dapat kesempatan untuk dapat membangun sebuah gedung gereja yang baru. Hal ini jelas karena panitia pembangunan gedung gereja pernah dibentuk dan terbentur dengan banyak hambatan sehingga lambat laun tidak berjalan lagi. Panitia pembangunan ini merupakan panitia ketiga dan mampu untuk membangun gedung gereja yang baru. Menurut Cucu dari Elsama Siahaya (tete Ama) ini jika proses pembongkaran gedung gereja ditunda-tunda maka kemungkinan Panitia kali ini akan menuai cerita yang sama dengan panitia-panitia sebelumnya.
Lelaki kelahiran Hulaliu 5 September 1978 ini juga merupakan anggota panitia termuda seksi teknis ini menyatakan siap dan bersedia dengan sungguh-sungguh untuk ada dalam proses pembangunan gedung gereja Betlehem yang baru, karena menurutnya ia akan merasa bangga jika turut ada dalam proses pembangunan ini. Kesehariannya bergumul bersama panitia yang jauh lebih tua dibandingnya tidak membuat ia merasa berkecil hati tetapi sebaliknya merasa bangga bisa bertukar pengalaman dengan para tukang diantara bapak Emang Latuihamallo, Bpk Nunu Siahaya, Bpk Ales Noya, Bpk Ais Nanulaita.
Karena tergabung dalam panitia sehingga Anak dari Bpk Jopi Siahaya ini menceritakan bahwa walaupun tiap orang masuk kerja menurut waktu kerja sektornya namun ia harus terus hadir. Elvis juga menyatakan bahwa kerja bagi rumah Tuhan ini tidak boleh dengan bersungut atau pancuri tulang, karena sapa biking bai dia dapa bai

LAOR / Eunice Viridis / Cacing Wawo


Sabtu, 14 Maret 2009

Laor memenuhi pantai Hulaliu. Ilmu Biologi menjelaskan Laor merupakan binatang triploblastik selomata Hidup di air laut, tubuhnya bersegmen. Setiap segmen dibatasi oleh sekat (septum). Sudah memiliki sistem syaraf, pencernaan, ekskresi, reproduksi dan sistem pembuluh.
Masyarakat Hulaliu secara tradisional menangkap atau menjaring Laor pada bulan Maret atau April tepatnya pada “bulan gelap tiga” (3 hari setelah bulan purnama).Masyarakat biasa menyebutnya dengan “Timba Laor” Alat yang digunakan untuk menimba laor adalah sebuah jarring atau kain kasa yang halus, masyarakat Hulaliu menyebutnya dengan kareng-kareng. Waktu timba Laor berlangsung setelah terbenamnya matahari hingga terbitnya bulan. Proses timba laor yang berlangsung saat malam ini mengharuskan untuk membawa lampu guna penerangan, selain berfungsi sebagai penerangan, cahaya lampu dapat membuat laor makin bermunculan dan makin banyak hasil yang didapatkan. Laor yang ditimba mulai dari tepian pantai dan berangsur-angsur ke tengah laut. hingga bulan naik pertanda laor makin berkurang.
Laor yang ditangkap ditempatkan didalam ember dan dibawa pulang untuk keluarga. Selain utnuk santapan keluarga laor juga dijual bagi mereka yang tidak sempat menimba laor atau karena kesalahan menghitung waktu tepatnya untuk menimba laor.
Laor yang kaya akan protein ini diolah menjadi “laor garam, digoreng atau juga dengan sedikit tambahan kacang”. Laor juga menjadi oleh-oleh yang paling indah buat sanak saudara yang ada di rantau karena keunikannya yang hanya muncul setahun sekali dalam 3 jam.
Menurut Bpk Ely Pasanea Laor membuat banyak sekali hasil laut, karena banyak binatang laut yang memakan laor sebagai santapan terkhususnya gorita, sehingga hari-hari sebelum dan sesudah laor banyak sekali masyarakat yang mendapat gurita.

YANAIN PERLU PERHATIAN


Minggu 15 Maret 2009
Yanain… tempat ikan bermain. Itulah arti dari Yanain secara harafiah. Yanain tidak asing lagi didengar dan dikunjungi apalagi bagi masyarakat Hulaliu. Tanjung yang berada di barat negeri Hulaliu dengan garis pantai 300m serta pasir putih yang halus, tubir laut yang curam menambah keindahan pantai ini. Keberadaannya disebelah barat negeri Hulaliu membuat suasana sore hari sangatlah indah.
Tanjung kebanggaan masyarakat Hulaliu ini kian lama kian merosot karena terjadi abrasi pengikisan air laut sehingga bibir pantai telah berkurang 1-2 dari tahun 2000-2009. Proses alamiah ini tidak dapat di cegah namun masih dapat diperlambat.
Hal ini juga ditegaskan oleh Raja negeri Hulaliu dalam acara makan patita negeri tanggal 2 januari 2008 Raja mengingatkan dan melarang untuk yanain dijadikan lokasi penambangan pasir guna pembangunan dalam negeri Hulaliu, yanain perlu dijaga dan dilestarikan kehijauannya dengan menanam pohon-pohon pelindung.
Dengan maksud menjaga dan melestarikan tanjung kebanggaan masyaraat Hulaliu ini maka pengambilan pasir tidak lagi dilakukan di pantai ini tetapi di pantai Totu Negeri Rohomoni yang berjarak 16 Km dari Negeri Hulaliu.

KECELAKAAN KERJA

Kamis, 12 maret 2008
Hujan deras melanda negeri Hulaliu, namun semangat dan kerja tak berhenti, suasana dilokasi pembangunan masih terlihat ramai oleh berbagai pekerjaan yang dilakukan bukan saja oleh para lelaki tetapi juga oleh kaum perempuan dan ibu hingga pukul 13.00 siang saat itu lokasi pembangunan yang tergenang air di sisa-sisa tehel bangunan gereja lama sehingga menjadi licin. Bpk Epu Siahaya yang juga adalah panitia pembangunan seksi teknis ini sementara berjalan di pinggiran kolam, tergelincir dan jatuh di dalam kolam yang berukuran 2x2m dengan kedalaman 2m. Akibatnya ia mengalami luka robek oleh tepian tehel, yang kemudian dijahit oleh Ibu Vien Siahaya istri dari Bpk Berthy Siahaya kepala Puskesmas Hulaliu,
Selesai dilakukan penutupan luka dan perawatan Menurut Ibu Vein luka dengan 18 jahitan ini perlu waktu istirahat yang cukup mengingat luka tersebut berada di bagian kaki kiri dekat pergelangan kaki bagian dalam sehingga diharuskan untuk mengurangi aktifitas gerak. Dengan demikian maka ayah dari April Siahaya ini harus beristirahat beberapa waktu hingga luka sembuh barulah dapat melakukan aktifitas pembangunan bersama dengan jemaat dan masyarakat yang lain.

Contact

Ketua Panitia
Bpk J . Sahureka : 081332250036

Seksi Teknis
Bpk Alex Noya : 08524387840

Elvis Siahaya : 081248113407

Bendahara
Bpk Dony Noya : 085243842650

Publikasi
Gusmon Sahureka : 085243272246

PUING UNTUK BETLEHEM BARU

Kerja Hari Pertama


Senin 9 April 2009
Proses pembongkaran gedung gereja Tua dimulai jam 8:15 diawali dengan arahan dari Pdt Jemaat Raja Negeri dan kemudian DOA awali pekerjaan oleh Raja Negeri. Dalam Doa Raja memohon dari Tuhan agar menggerahkan dan menyadarkan semua anak negeri agar dapat ikut serta dalam proses ini. Setelah itu jemaat yang kebanyakan para lelaki oleh Pdt menyanyikan lagu DSL “Jangan kamu takut Aku adalah” menambah meyakinkan jemaat akan kasih Tuhan dalam proses kerja dihari ini setelah itu doa pemberkatan oleh Pdt Jemaat.
Ketua panitia Bpk J . Sahureka dalam arahannya memberi semangat dan meyakinkah bahwa “Jangan Takut Dosa” karena ini demi membuat gedung gereja yang baru. Dan diakhiri dengan arahan dari panitia bagian pembangunan Bpk Alex Noya menyatakan bahwa proses hari ini dilakukan secara hati-hati dengan panduan dari panitia seksi teknis.
Proses pembongkaran diawali dengan memasang bambu (stelen) agar dapat naik ke bagian atap gereja guna pelepasan seng, jendela, pembongkaran / pemindahan mimbar kecil dari dalam gedung gereja untuk diamankan guna digunakan di gedung gereja yang baru nanti. Pemindahan bangku dan barang-barang kantor jemaat, payung mimbar.
Setelah istirahat makan siang raja memberikan kekaguman atas kinerja masyarakat dan jemaat Hulaliu yang dalam beberapa jam saja telah menyelesaikan pelepasan atap seng. Kerja dilanjutkan kembali dengan proses pelepasan tiang Noh dan kegiatan hari ini berakhir dengan doa syukur oleh pendeta jemaat.
Dalam keterangan Bpk Alex selaku tenaga teknis mengatakan bahwa pembongkaran gereja tua akan berlangsung kurang lebih 2 minggu bahkan lebih tapi pada akhirnya kerja dapat diselesaikan hingga tuntas hanya dalam waktu kurang dari 5 hari sebagai bukti kinerja dan upaya masyarakat dan jemaat yang sungguh ingin membangun gedung gereja yang baru.

Kerja

Kemegahannya

Sudah seratus satu tahun lebih gedung gereja betlehem menjadi tempat pergumulan anak-anak negeri Hulaliu dari situ awal anak-anak negeri mengenal dan terbentuklah karakter keimanan dan dari situ pula anak-anak negeri terpancar keluar dan menjadi berkat bagi banyak orang
Setelah termakan usia, sedikit demi sedikit direnovasi ganti atap ke zeng tahun 1976 Pimpinan Jemaat Pdt N . Maitimu, tiang lonceng tahun 1991-Pemimpin Jemaat Pdt S . Lopulalan. Ganti zeng yang kedua tahun 2002 dan pembangunan ruang tambahan tahun 2003- Pemimpin Jemaat Pdt N . Pattinama. dan pelaksanaan 100 tahun gereja Betlehem yang dilakukan tanggal 7 – 7 – 2007 dengan kegiatan Hulaliu Panggel Pulang.
Pada Januari 2008 dalam sidang Jemaat GPM Hulaliu yang ke 27 maka diputuskan untuk proses pembangunan gedung gereja betlehem yang baru.. setelah dilakukan uji kelayakan oleh tim teknis.
Pada tanggal 20 April dilakukan proses peletakan batu alasan pembangunan gedung gereja yang dihadiri oleh Gubernur Maluku Karel Albert Ralahallo dan Ketua Sinode GPM Jhon Ruhulesin yang mengatakan bahwa turut bangga jika melihat geung gereja Hulalliu yang besar dan megah yang telah berusia 100 tahun mungkin saja saat seratus tahun lalu gereja ini merupakan gereja termegah di wilayah pelayanan GPM


PROSESI IBADAH PERDANA DI GREJA DARURAT


Minggu 8 February 2009
Setelah arak-arakan dengan membawa alat-alat sakramen dari Gereja tua maka tibalah para pelayan (Ketua Klasis PP. Lease, Ketua MJ, para MJ dan seluruh anggota Jemaat) untuk melanjutkan ibadah perdana di Gereja Darurat (depan Pekuburan Umum).Sekaligus acara pembukaan Sidang Jemaat ke 28 Jemaat GPM Hulaliu.

Kegiatan Awal tahun

Lelang Jemaat yang berlangsung tiap tahun sebagai pemberian dari jemaat

Raja Negeri Hulaliu, Ketua IKKHAR dan Bpk Hans Taihuttu
saat makan patita 2 Januari 2009

Ibu Raja negeri Hulaliu, turut dalam makan patita dengan warga

Antusias Warga, makanan enak, makan dengan asyik

Mandi dan Menikmati kelembutan pasir putih Janain dan indahnya panorama

Tahun Baru 2009





Kunci Taong Terakhir



Gereja BARU

ini adalah gambar gereja Hulaliu yang baru yang akan dibangun di tahun ini.
mungkin semua basudara tahu tentang proses pembangunan gedung gereja yang baru tapi melihat rancangannya sama sekali belum.. Ahaone menampilkan gambar demi kepentingan informasi yang basudara butuhkan...

semoga Tuhan memberkati kita dan memberi kita kekuatan dalam proses pembangunan gedung gereja ini.
















Gereja Baru

Kunci Taong Terakhir Di gareja Tua

MALAM KUNCI TAONG

Malam kunci taong kali ini merupakan malam kunci taong terakhir di gereja Tua karena akan dibangun di tempat ini gedung gereja yang baru, banyak basudara yang datang dari rantau untuk bersama ada dalam malam kunci taong terakhir di gereja tua ini. Ibadah yang dipimpin oleh pendeta jemaat J . Lopuhaa Pembacaan Alkitab Yosua 24 : 1-14

dalam khotbah Pendeta menyampaikan bagi umat untuk tetap ada dalam semangat guna proses pembangunan gedung gereja yang baru hingga dalam Syafaat pun pendeta berdoa untuk pembangunan gereja baru… ibadah yang saat itu di dukung oleh VG dan paduan suara menambah syahdunya malam kunci taong.

Setelah selesai ibadah Raja negeri Hulaliu menyampaikan beberapa pesan Menyambut Tahun Baru

o Menjaga keamanan dan ktertiban melihat kondisi global dan keamanan local dihatuhaha

o Tidak ada pesta negeri diganti dengan tradisi makan patita di tanjong janaian dan diselesaikan dengan badendang masuk negeri hulaliu

o Pemakaman keluarga yang meninggal dunia tidak boleh lagi di pekarangan rumah tetapi haruslah di tempat Pemakaman umum yaitu kerko

o Mari katong membangun gereja baru agar kelak dapat mengatakan dengan bangga for anak cucu bahwa gareja baru ini Bapa / mama, Om, Tante punk tampa tangan ada di akang. Terima kasih buat anak negeri dari rantau yang sudatang di negeri hulaliu..Buat basudara di rantau mari katong dukung pembangunan di dalam negeri

Kemegahan Terakhir